Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, mengungkapkan sisi lain dalam proses penyidikan yang seringkali dipenuhi mitos dan stereotip. Banyak orang membayangkan bahwa proses interogasi selalu berlangsung dengan nada tinggi dan intimidasi, padahal kenyataannya sangat berbeda.
Asep menjelaskan bahwa di KPK, pendekatan yang digunakan dalam investigasi adalah dengan empati dan pengertian, bukan paksaan. Proses ini dimulai dengan profiling yang seksama untuk memahami karakter dan latar belakang orang yang akan diperiksa.
“Kita lihat dulu siapa yang ingin diperiksa. Jika orang tersebut memiliki banyak relasi atau kenalan, kita harus lebih berhati-hati dalam menyelidiki mereka,” tutur Asep. Pendekatan ini terbukti efektif dalam mengungkap fakta-fakta yang sulit dijangkau.
Menurut Asep, jika seorang saksi atau tersangka merasa nyaman, maka kemungkinan besar mereka akan terbuka. Ini menjadi salah satu strategi penting dalam penyidikan yang sering diabaikan oleh banyak orang.
Strategi Profiling dalam Proses Investigasi dan Penyidikan
Dalam dunia investigasi, profiling sangat penting untuk memahami kepribadian seseorang. Asep menjelaskan bahwa pengetahuan tentang karakter dan kebiasaan individu dapat membantu penyidik menemukan cara terbaik dalam menggali informasi.
“Misalnya, jika kita menghadapi orang yang religius, kita perlu mencari tahu apa yang mereka sukai dan berusaha beradaptasi dengan itu,” jelas Asep. Dengan memahami ketertarikan mereka, penyidik dapat menciptakan suasana yang lebih nyaman dan akrab.
Profiling tidak hanya bermanfaat bagi penyidik, tetapi juga bagi para saksi yang merasa lebih dihargai. Dengan melakukan pendekatan yang benar, penyidik dapat menggali informasi secara lebih efektif dan menyeluruh.
Keberhasilan dalam investigasi sering kali ditentukan oleh seberapa baik penyidik dapat membaca situasi dan individu yang mereka hadapi. Kualitas komunikasi menjadi kunci dalam membangun hubungan antara penyidik dan saksi.
Tantangan yang Dihadapi Penyidik di Lapangan
Selain teknik profiling, Asep juga berbicara tentang tantangan yang sering dihadapi dalam proses penyidikan. Salah satu kendala yang sering muncul adalah kecemasan dari saksi atau tersangka ketika mereka berhadapan dengan media.
“Banyak dari mereka yang merasa tertekan dan takut ketika dikelilingi wartawan,” ungkap Asep. Ketakutan ini sering kali menjadi penghalang untuk mendapatkan informasi yang jujur dan akurat.
Sedikitnya, ketika saksi merasa terancam dengan sorotan media, mereka cenderung menutup diri. Oleh karena itu, Asep menganggap penting untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi mereka.
Kesadaran akan tantangan ini membentuk pendekatan humanis yang diterapkan KPK dalam penyidikan. Penyidik dilatih untuk lebih empatik dalam mendekati saksi, yang pada gilirannya akan menghasilkan hasil investigasi yang lebih substantif.
Pentingnya Pendekatan Empatik dalam Proses Penyidikan
Empati dalam investigasi bukan hanya sebuah idealisme, tetapi juga strategi yang sangat efektif. Asep menekankan bahwa dalam situasi yang penuh tekanan, pemahaman terhadap perasaan orang lain dapat membuka jalan untuk komunikasi yang lebih baik.
“Saat kita memahami ketakutan dan kekhawatiran mereka, kita dapat membangun kepercayaan dan rasa aman,” jelas Asep. Hal ini berkontribusi besar terhadap keberhasilan dalam menggalang informasi.
Pendekatan ini juga menjadi bahan pembelajaran bagi penyidik muda di KPK. Dengan mengadopsi sikap empatik, diharapkan generasi baru penyidik dapat menghadapi tantangan yang lebih kompleks di masa depan.
Dari pengalaman Asep, pendekatan ini tidak hanya membangun kepercayaan, tetapi juga dapat mengurangi ketegangan yang seringkali muncul dalam situasi penyidikan. Ini menunjukkan bahwa dengan cara yang tepat, faktanya bisa lebih mudah diungkap.







