Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf mengungkapkan niatnya untuk kembali mencalonkan diri sebagai Ketua Umum organisasi Islam terbesar di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan saat tiba di Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Konbes) 2026 yang berlangsung di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur.
“Saya siap, Insya Allah saya siap,” kata Gus Yahya dengan mantap. Kesediaannya untuk maju pada pemilihan mendatang bukannya tanpa pertimbangan, melainkan didasari oleh komitmen untuk menyelesaikan agenda organisasi yang belum selesai.
Sejak awal kepemimpinannya, Gus Yahya telah menunjukkan kepedulian yang mendalam terhadap sejumlah persoalan yang menuntut perhatian segera. Ia mengungkapkan bahwa niatnya untuk mencalonkan diri bukanlah keputusan mendadak, tetapi telah direncanakan dengan matang.
Kepemimpinan Gus Yahya selama ini berfokus pada resolusi masalah yang ada dalam internal PBNU. Ia merasa ada sejumlah agenda yang tidak dapat diabaikan dan perlu dirampungkan untuk kemajuan organisasi ke depan.
Munas dan Konbes yang berlangsung di Kediri dari tanggal 20 hingga 22 Juni 2026 ini dianjurkan untuk menjadi wadah diskusi serta pengambilan keputusan atas berbagai isu yang dihadapi NU. Gus Yahya pun berharap adanya dukungan agar ia dapat menyelesaikan agenda-agenda penting PBNU pada periode berikutnya.
Persiapan dan Agenda PBNU untuk Keberlanjutan Organisasi
Gus Yahya menyatakan bahwa persiapan menuju pemilihan Ketua Umum memang memerlukan waktu dan perencanaan yang matang. Selama masa kepemimpinannya, ia telah berhasil membawa PBNU ke arah yang lebih progresif, namun masih banyak hal yang harus dilakukan. Kesepakatan dan kolaborasi antar anggota sangat diharapkan guna memperlancar berbagai agenda yang ada.
Salah satu agenda penting yang ingin ditekankan adalah pendidikan dan pemberdayaan santri. Gus Yahya meyakini bahwa santri memiliki peranan penting dalam menjaga keutuhan dan kemajuan bangsa. Dengan memperkuat pendidikan, para santri diharapkan dapat berkontribusi lebih bagi masyarakat dan negara.
Selain itu, Gus Yahya juga bercita-cita untuk menjadikan PBNU sebagai motor penggerak dalam isu-isu sosial dan politik yang menyentuh masyarakat. Dalam pandangannya, organisasi harus dapat menjadi garda terdepan dalam menanggapi berbagai tantangan yang dihadapi oleh umat dan bangsa.
Pada kesempatan yang sama, Gus Yahya juga mengajak para anggota NU untuk bersatu dan fokus dalam mencapai tujuan bersama. Ia percaya bahwa dengan dukungan dari semua pihak, segala agenda yang telah direncanakan dapat terealisasi dengan baik dan memberikan manfaat yang luas.
Gus Yahya berharap bahwa Musyawarah Nasional kali ini dapat menghasilkan komitmen dari para pemimpin NU untuk menjaga kesinambungan organisasi dan memajukan program-program yang sudah digariskan. Dengan demikian, NU akan semakin kuat dan relevan dalam menghadapi tantangan zaman.
Komitmen dan Harapan Gus Yahya untuk PBNU ke Depan
Komitmen Gus Yahya terhadap PBNU tidak hanya terfokus pada penyelesaian agenda internal. Ia juga bertekad untuk memperluas peran PBNU dalam mengatasi isu-isu nasional yang lebih luas. Dengan pengalaman yang dimiliki, Gus Yahya berkeyakinan bahwa ia dapat membawa PBNU menuju arah yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan umat.
Dalam pandangan Gus Yahya, tantangan yang dihadapi saat ini sangat kompleks, mulai dari sosial, ekonomi, hingga politik. Ia menekankan pentingnya sinergi antara berbagai elemen NU untuk menjawab tantangan tersebut secara konstruktif dan produktif.
Sebagai seorang pemimpin, Gus Yahya juga menyadari bahwa partisipasi aktif dari generasi muda sangat penting. Oleh karena itu, ia berupaya untuk memberikan ruang yang lebih besar bagi pemuda dalam struktur kepemimpinan NU. Ia percaya bahwa regenerasi kepemimpinan akan membawa energi baru bagi kemajuan organisasi.
Selanjutnya, Gus Yahya juga ingin mendorong adanya inovasi dalam program-program yang dijalankan PBNU. Dengan pendekatan yang lebih modern dan relevan, diharapkan program-program tersebut dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas dan memiliki dampak yang nyata.
Secara umum, harapan Gus Yahya adalah agar PBNU dapat menjadi lembaga yang berfungsi secara optimal dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, serta tetap mempertahankan nilai-nilai luhur Islam yang menjadi landasan organisasi.
Peran Strategis PBNU dalam Konteks Sosial dan Politik
Dalam konteks sosial dan politik, PBNU sebagai salah satu organisasi Islam terbesar memiliki tanggung jawab yang besar. Gus Yahya sangat menyadari hal ini dan berkomitmen untuk menjadikan PBNU sebagai penggerak dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil dan berkeadilan. Berbagai program kerja yang relevan dengan kondisi sosial politik masyarakat akan terus diupayakan.
Salah satu fokus utama yang ingin dicapai adalah peningkatan partisipasi warga NU dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Gus Yahya ingin agar NU tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga aktor penting dalam perkembangan sosial-politik di Indonesia.
Gus Yahya juga mengajak untuk berkontribusi aktif dalam setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, agar suara dari kaum nahdliyin dapat terwakili secara adil. Dalam pandangannya, keterlibatan aktif dalam politik tidak berarti mengabaikan misi keagamaan, tetapi justru harus saling melengkapi.
Melalui sikap inklusif dan dialogis, diharapkan PBNU dapat menjadi jembatan antara masyarakat dan pengambil keputusan. Gus Yahya percaya bahwa ini adalah salah satu jalan untuk meraih cita-cita bersama menuju masyarakat yang lebih sejahtera.
Dengan komitmen yang kuat, Gus Yahya berharap bahwa PBNU dapat terus berkontribusi dalam membangun bangsa dan menjaga perdamaian serta persahabatan antaragama. Keberlanjutan misi ini sangat penting untuk menciptakan stabilitas sosial yang dibutuhkan.






















