Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas) telah mengumumkan akhir dari pemantauan aktif terkait insiden kebakaran kapal KMP Mutiara Sentosa II setelah melakukan penyisiran selama empat hari di perairan utara Pulau Madura, Jawa Timur. Penutupan kegiatan ini dilakukan setelah tidak ditemukan tanda-tanda adanya korban atau sisa-sisa kapal yang mungkin masih berada di lokasi kejadian.
Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya, Nanang Sigit PH, menjelaskan bahwa keputusan ini diambil pada hari ketujuh pasca-insiden, berdasarkan hasil monitoring yang menunjukkan tidak adanya indikasi keberadaan korban ataupun kapal. Dengan berakhirnya kegiatan ini, Basarnas menekankan pentingnya evaluasi operasi yang telah dilakukan.
“Kegiatan monitoring aktif dihentikan setelah kami memastikan tidak ada tanda-tanda korban yang mungkin ditinggalkan,” ujar Nanang yang mengutip informasi dari berbagai sumber, pada hari Minggu.
Rincian Operasi Pencarian yang Dilakukan oleh Basarnas
Selama proses pencarian dan penyisiran, Basarnas melibatkan banyak personel dan alat utama sistem keselamatan (alutsar) untuk memastikan area pencarian dapat dijangkau secara maksimal. Penyisiran dilakukan baik melalui jalur laut, menggunakan kapal KN SAR 249 Permadi dan RIB Pos SAR Sumenep, maupun dengan pemantauan dari udara yang dilakukan menggunakan helikopter AW139.
Meskipun monitoring telah berakhir, Nanang menegaskan bahwa personel Basarnas akan tetap siaga untuk merespons kemungkinan kondisi darurat lainnya yang mungkin terjadi di masa mendatang. Hal ini penting untuk menjaga kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi yang tidak terduga.
Proses pencarian yang dilakukan selama ini melibatkan penggunaan teknik pencarian yang menyeluruh. Basarnas memastikan bahwa setiap sudut perairan yang mungkin menjadi lokasi adanya korban telah terjangkau dalam rangka menemukan jejak atau bukti yang relevan.
Jumlah Korban yang Terdapat dalam Insiden Kebakaran
Dalam insiden kebakaran KMP Mutiara Sentosa II, total 238 penumpang telah berhasil terdata dan dievakuasi ke tempat aman. Dari jumlah tersebut, 233 penumpang dinyatakan selamat sementara lima lainnya diketahui meninggal dunia. Proses evakuasi yang cepat dan terkoordinasi menjadi kunci utama dalam menanggulangi tragedi ini.
Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menyatakan bahwa jumlah korban didapatkan setelah data manifes disinkronkan dengan pihak kesyahbandaran dan operator kapal. Hal ini memastikan bahwa informasi mengenai penumpang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pada tahap evakuasi, korban selamat dibawa dengan berbagai kapal yang terlibat dalam operasi penyelamatan. Misalnya, KM Meratus Pematang Siantar berhasil mengevakuasi 110 orang, sementara KRI Nala mengangkut 30 orang dan lainnya dibantu oleh kapal-kapal lain yang beroperasi di sekitar lokasi kejadian.
Tindak Lanjut dan Kesiapsiagaan setelah Operasi Pencarian
Seiring dengan berakhirnya monitoring aktif, Basarnas kini beralih ke posisi standby. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi dan mempersiapkan diri menghadapi terjadi keadaan darurat lain yang mungkin muncul. Kesiapsiagaan ini adalah bagian dari protokol yang diikuti oleh Basarnas dalam menjaga keselamatan publik.
Pengalaman dari insiden ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak terkait agar siap menghadapi situasi serupa di masa depan. Kesiapan dalam memberikan respon dan penanganan darurat adalah hal penting yang harus selalu dijaga dan dilatih.
Lebih jauh, evaluasi mendalam akan dilakukan mengenai pelaksanaan operasi SAR ini untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan yang ada. Melalui analisis ini, Basarnas diharapkan dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam menjalankan misi menyelamatkan jiwa di lapangan.






















