Bupati Gowa, Husnia Talenrang, merasa terkesima dengan penampilan jemaah haji kelompok terbang (kloter) 5 yang tiba di Asrama Haji Sudiang, Sulawesi Selatan. Dengan busana yang nyentrik, mereka memberikan kesan berbeda yang menyenangkan saat kembali dari Tanah Suci.
Jemaah kloter 5 Embarkasi Makassar yang berjumlah 392 orang, hadir pada Jum’at sekitar pukul 07.35 WITA, sedikit terlambat dari jadwal semula. Husnia mengungkapkan rasa bangga dan bahagianya dalam menyambut mereka, menjadikan momen ini spesial bagi masyarakat serta keluarga jemaah.
“Hari ini bukan hanya keluarga yang senang, tetapi saya selaku pemerintah daerah dan pribadi merasa bangga dan bahagia menyambut kedatangan bapak ibu sekalian kembali di rumah,” ungkap Husnia di lokasi kedatangan.
Busana Nyentrik Jemaah Haji Menjadi Sorotan Utama
Setibanya di Asrama Haji Sudiang, jemaah tersebut mengenakan busana ‘bling-bling’ yang telah mereka siapkan saat berangkat ke Tanah Suci. Busana ini memang khusus dirancang untuk kepulangan mereka dan menunjukkan sisi glamor dari pengalaman ibadah haji.
Husnia berpendapat bahwa busana yang digunakan jemaah menambah keindahan suasana. Ia menyebut kehadiran jemaah kali ini membawa nuansa yang lebih Islami dan sejuk, menambah kebahagiaan pada perayaan tersebut.
Salah satu jemaah, Kartini Kamaruddin Ramadan, menceritakan bahwa ia sudah menyiapkan busana tersebut jauh-jauh hari sebelum keberangkatan. Dengan perasaan bangga, ia mengenakan busana itu saat kembali ke tanah air.
Mobilitas dan Keterlambatan Jemaah Haji
Dari total jemaah haji kloter 5, satu orang jemaah, Nursidah Sinrang Sijarrah, dilaporkan meninggal dunia di Madinah. Kematian satu jemaah tentu menjadi berita duka bagi keluarga dan teman-teman yang menyambutnya di tanah air.
Keterlambatan dalam kedatangan jemaah ini juga menjadi perhatian, namun banyak yang menganggapnya sebagai hal kecil dibandingkan dengan pengalaman spiritual yang mereka dapatkan. Waktu yang terlewat pun diiringi dengan kebahagiaan akan momen kedatangan mereka.
Namun, pada saat yang sama, jemaah tetap merasa bersyukur dapat kembali ke tanah air secara keseluruhan, dan merayakan momen reunian dengan penuh suka cita meskipun ada kehilangan yang harus diterima.
Oleh-Oleh dari Tanah Suci: Tradisi yang Selalu Dihidangkan
Saat kembali, jemaah tak lupa membawa oleh-oleh khas dari Tanah Suci untuk keluarga dan teman. Kartini, salah satu jemaah, menyiapkan oleh-oleh seperti kurma, air zamzam, dan cokelat, menunjukkan perhatian dan kasih sayang kepada orang-orang terdekat.
Dari berbagai jenis oleh-oleh yang dibawa, boneka unta menjadi salah satu yang menarik perhatian. Ini menandakan bukan hanya tradisi, tetapi juga sebuah symbol dari pengalaman yang amat berkesan bagi setiap jemaah.
Tradisi membawa oleh-oleh menjadi hal yang sudah lumrah dan menjadi salah satu momen spesial saat kembali ke rumah. Semua ini menciptakan rangkaian cerita yang lebih kaya bagi jemaah dan keluarga yang menunggu di tanah air.




















