Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, memberikan tanggapan mengenai pembubaran aktivitas ibadah Gereja Misi Sejahtera (GMS) yang terjadi di Glugo, Panggungharjo, Sewon, Kabupaten Bantul. Menurutnya, perbedaan yang ada dalam masyarakat adalah hal yang tidak dapat dihindari dan harus dipahami sebagai bagian dari keberagaman manusia.
Dalam pandangannya, individu perlu menghargai bahwa setiap orang memiliki latar belakang, agama, dan ras yang berbeda. Hal ini menegaskan pentingnya toleransi dan saling pengertian dalam masyarakat yang beragam.
Sultan menekankan bahwa perbedaan seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling bertikai. Ia mengatakan, “Yang namanya manusia itu, perbedaan itu ada, tapi tidak memahami bahwa Allah itu memang menciptakan ras yang berbeda, agama yang berbeda, asal usul juga berbeda.”
Respons terhadap Penolakan Ibadah oleh Ormas
Kejadian pembubaran ibadah pada hari Minggu lalu terjadi karena adanya penolakan dari sekelompok organisasi masyarakat. Menurut Sultan, perlu adanya pemahaman bahwa suatu perbedaan tidak selalu berarti ada yang lebih benar dari yang lain. Hal ini menandakan pentingnya untuk menjaga sikap saling menghormati.
Pihak Pemerintah Kabupaten Bantul, melalui Plt Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, Yulius Suharta, menjelaskan bahwa GMS selama ini melaksanakan ibadah dengan menyewa ruangan di sebuah hotel. Namun, ketika mereka merencanakan untuk berpindah ke tempat baru, masalah izin bangunan menjadi sorotan utama.
Yulius menambahkan bahwa meskipun pihak gereja sudah mengantongi Surat Keterangan Tanda Lapor (SKTL) dari Kemenag, hal itu belum dianggap cukup. Oleh karena itu, Pemkab Bantul masih melakukan verifikasi terkait izin bangunan yang digunakan sebagai tempat ibadah.
Upaya Pemerintah dalam Mengatasi Masalah Keberagaman
Pemerintah daerah sebenarnya sudah mengantisipasi persoalan ini dengan melakukan koordinasi bersama pengurus kelurahan dan kecamatan setempat. Pertemuan dengan pihak gereja telah dilakukan sebelum peristiwa pembubaran, namun tetap saja masa yang menolak tetap berkumpul saat ibadah berlangsung.
Sultan juga mengimbau agar kelompok-kelompok masyarakat dapat berkomunikasi dengan baik. Menurutnya, dialog yang terbuka akan membantu meredakan ketegangan. “Masalah kesadaran dan komunikasi sangat penting dalam menghadapi perbedaan,” tuturnya.
Kedepannya, rapat koordinasi Pemkab Bantul akan menentukan langkah selanjutnya untuk menyikapi situasi ini. Langkah-langkah penyelesaian yang inklusif diharapkan bisa mencapai titik temu bagi semua pihak.
Pentingnya Toleransi dalam Masyarakat yang Beragam
Berdasarkan pernyataan Sultan, sangat penting untuk membangun sikap toleransi dan saling menghargai. Hal ini tidak hanya untuk menjaga keharmonisan antarumat beragama, tetapi juga untuk memperkuat persatuan di dalam masyarakat. Dengan demikian, masyarakat dapat hidup berdampingan dengan aman.
Sultan menegaskan bahwa tidak ada satu kelompok pun yang bisa mendaku dirinya paling benar. Semua pihak perlu berusaha memahami dan menerima perbedaan serta mencari solusi yang baik untuk kepentingan bersama.
Pengelolaan keberagaman ini menjadi tanggung jawab bersama. Setiap individu harus menyadari bahwa kebangkitan semangat toleransi adalah kunci untuk keberlangsungan hidup di tengah masyarakat yang majemuk.






















