Rismon Hasiholan Sianipar baru-baru ini mengungkap bahwa Presiden Joko Widodo memberikan sambutan positif terhadap buku terbaru yang ditulisnya berjudul ‘Otentikasi Ijazah Joko Widodo’. Dalam pertemuan itu, Rismon menyatakan bahwa Jokowi mendorong untuk mendistribusikan buku tersebut ke berbagai universitas guna memperluas pemahaman akademik tentang isi buku yang ditulis berdasarkan riset ilmiah.
Rismon juga merencanakan untuk menggelar acara bedah buku di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia menilai ruh akademik buku ini perlu disebarluaskan agar dapat diulas lebih dalam oleh kalangan akademisi, menjadikan buku ini bagian dari diskusi di dunia pendidikan.
Pentingnya Peran Akademisi dalam Penelitian Buku
Rismon menekankan bahwa penting untuk menjadikan isi buku tersebut sebagai bahan kajian di lingkungan akademik. Melalui penelitian yang mendalam, buku ini diharapkan dapat membuka dialog yang lebih luas mengenai substansi yang dibahas. Hal ini menunjukkan bahwa buku bukan hanya sekadar tulisan, tetapi merupakan hasil dari pemikiran dan penelitian yang serius.
Pertemuan dengan Jokowi memberikan Rismon semangat tambahan untuk menyebarluaskan karya ilmiahnya. Ia menyebutkan bahwa buku ini berfungsi sebagai sumbangsih bagi literatur akademik di Indonesia, terutama di bidang penerapan hukum dan etika publik. Melalui buku ini, Rismon berharap dapat mendorong para pembaca untuk berpikir kritis terhadap isu-isu yang diangkat.
Sementara itu, Rismon juga memastikan bahwa penulisan bukunya tidak terpengaruh oleh kepentingan politik. Menurutnya, karya ilmiah harus bebas dari bias politik agar dapat diterima secara universal. Ia ingin menunjukkan komitmennya terhadap etika penulisan ilmiah yang harus tetap dijaga oleh setiap peneliti.
Menanggapi Proses Restorative Justice dalam Kasus Ijazah
Saat membahas hubungan antara bukunya dan proses Restorative Justice yang sedang berjalan, Rismon menegaskan bahwa buku ini tidak ada kaitannya dengan hal tersebut. Ia menjelaskan bahwa penelitian ini murni dari sudut pandang akademis, tanpa membawa tema politik atau konflik pribadi. Fokusnya murni pada validitas informasi yang akan menyajikan kebenaran.
Dalam keterlibatannya dalam penyusunan buku yang membahas isu ijazah Jokowi sebelumnya, Rismon memiliki tanggung jawab moral untuk mengoreksi informasi yang ia anggap tidak akurat. Itulah alasan utama ia menulis buku ini, demi menciptakan literasi yang beretika dan bertanggung jawab. Hal ini penting bagi reputasi akademis dan kualitas informasi yang beredar di masyarakat.
Rismon menambahkan bahwa buku ini bertujuan untuk membuka ruang dialog yang lebih sehat di kalangan akademisi, dan semoga dapat merangsang pemikiran kritis di kalangan mahasiswa. Ia percaya bahwa pertanyaan-pertanyaan terkait otentikasi ijazah tidak hanya penting bagi individu tetapi juga untuk masyarakat secara keseluruhan.
Menjadi Sumber Inspirasi bagi Peneliti Muda
Rismon berharap buku ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi peneliti muda yang ingin menggali lebih dalam mengenai integritas dan kejujuran dalam dunia pendidikan. Banyaknya tantangan dalam bidang ini memerlukan keberanian dari peneliti untuk mengungkap fakta dan mencari kebenaran. Rismon ingin menunjukkan bahwa riset yang baik bisa menjembatani berbagai masalah yang ada di masyarakat.
Kearifan dalam berdemokrasi dan beretika dalam meneliti adalah kuncinya. Ia berharap para akademisi, khususnya di UGM, bisa terlibat aktif dalam diskusi yang akan muncul setelah peluncuran buku ini. Sebab, inilah saat yang tepat bagi generasi muda untuk menggugah kesadaran akan pentingnya integritas dalam pendidikan.
Komitmen Rismon terhadap riset yang obyektif dan produktif bisa dijadikan teladan. Dengan menerbitkan buku yang ditujukan untuk memperbaiki pemahaman masyarakat tentang isu-isu penting, ia menunjukkan bahwa penulis dapat memiliki peran yang krusial dalam pembentukan opini publik. Penulisan yang bertanggung jawab akan membawa masyarakat menuju perubahan yang positif.




















