Rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Akhmad Sodiq, baru-baru ini memberi penjelasan mengenai pengiriman perwakilan mahasiswa untuk menemani Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam kunjungan ke Indonesia Timur. Hal ini disampaikan Sodiq di tengah aksi protes yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswa di depan Rektorat Unsoed pada hari Senin.
Menurut mahasiswa, delegasi yang berangkat tidak mencerminkan sikap dan semangat mereka terkait dua program penting, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Ratusan mahasiswa yang terlibat dalam aksi tersebut merasa kecewa dan marah, menginginkan keterwakilan yang lebih baik dari pihak universitas.
Aksi protes mahasiswa ini menandai ketidakpuasan mereka terhadap keputusan rektorat terkait delegasi yang diutus. Mereka membawa poster yang mengungkapkan keraguan mereka tentang apakah perwakilan yang dikirim merupakan duta kampus atau hanya duta untuk program-program tersebut.
Reaksi Mahasiswa Terhadap Pengiriman Delegasi
Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsoed, Azza Febra Pramudika, menjelaskan bahwa mereka mengakumulasikan rasa kekecewaan terhadap keputusan tersebut. Menurutnya, mahasiswa seharusnya dilibatkan dalam pengambilan keputusan terkait program yang berdampak langsung pada mereka.
Kekecewaan ini berkembang menjadi tuntutan agar kampus lebih transparan dan partisipatif dalam setiap keputusan yang diambil. Azza menggarisbawahi bahwa kompromi politik dengan kekuasaan tidak akan diterima oleh mahasiswa, terutama saat mereka sedang mengadvokasi penolakan terhadap kedua program tersebut.
Aliansi mahasiswa juga menuntut pengakuan atas kesalahan dalam proses pengiriman delegasi tersebut serta komitmen pimpinan kampus agar tidak terjadi lagi di masa mendatang. Mereka bertekad untuk terus memantau tindak lanjut dari pihak kampus terkait isu ini.
Harapan Mahasiswa Terhadap Pihak Rektorat
Azza menegaskan harapan para mahasiswa agar pernyataan sikap yang dibacakan oleh rektor tidak hanya menjadi formalitas. Mereka menginginkan tindakan nyata sebagai respons dari pernyataan tersebut, bukan hanya janji-janji kosong.
Isu ini mencuat di tengah ketidakpuasan mahasiswa yang merasa tidak terwakili. Mahasiswa berharap pihak universitas dapat lebih mendengarkan suara mereka dan memberikan ruang bagi partisipasi mahasiswa dalam keputusan yang menyangkut nasib mereka.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menuntut agar pimpinan universitas mengubah cara komunikasi dan pengambilan keputusan agar lebih inklusif. Mereka ingin agar setiap kebijakan yang diambil mencerminkan aspirasi dan kebutuhan mahasiswa secara keseluruhan.
Pernyataan Resmi Rektor Unsoed Terkait Masalah Ini
Sementara itu, Rektor Unsoed, Akhmad Sodiq, menjelaskan bahwa pihaknya telah mendengar seluruh masukan dari mahasiswa dan akan menjadikannya bahan evaluasi. Ia berharap ini menjadi kesempatan untuk memperbaiki proses yang ada agar lebih baik di masa depan.
Sodiq menekankan bahwa perguruan tinggi tetap berpegang pada prinsip tridarma, yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ia menambahkan bahwa keputusan untuk mengirimkan mahasiswa berbasis pada surat resmi dari Sekretariat Wakil Presiden.
Meski mahasiswa merasa terpinggirkan, Sodiq menjelaskan bahwa delegasi mahasiswa yang dikirim telah memberikan masukan berdasarkan pengamatan mereka. Menurutnya, masukan tersebut diapresiasi dan disusun menjadi laporan yang akan disampaikan kepada Wakil Presiden.
Pada akhirnya, dialog antara mahasiswa dan pimpinan universitas menjadi sangat penting. Sodiq berharap bahwa komunikasi yang terjalin dapat menjadi lebih baik dan memenuhi kebutuhan semua pihak di masa depan. Ini menjadi harapan bersama untuk kemajuan universitas dan kebangkitan partisipasi mahasiswa.
Seluruh pihak sepakat bahwa momen ini harus dimanfaatkan sebagai evaluasi agar tidak terulang di kemudian hari. Integritas dan transparansi dalam setiap keputusan yang diambil diharapkan akan membawa lingkungan akademik yang lebih sehat di Universitas Jenderal Soedirman.




















