Mantan Gubernur DKI Jakarta mengenang awal pembangunan sistem transportasi umum di momen peringatan Hari Ulang Tahun ke-499 Jakarta. Pada kesempatan tersebut, ia menjelaskan bagaimana masalah transportasi mulai dipikirkan secara serius pada tahun 2003 setelah fokus pemerintah daerah menanggulangi dampak kerusuhan Mei 1998.
Keberadaan sistem transportasi yang baik sangat penting bagi produktivitas masyarakat. Banyaknya kerugian akibat kemacetan sudah pasti berpengaruh pada efisiensi waktu dan sumber daya manusia.
“Transportasi ini kita utamakan karena kerugian yang ditimbulkan itu besar, baik langsung maupun tidak langsung,” katanya. Penanganan masalah ini menjadi prioritas utama untuk meningkatkan mobilitas dan kualitas hidup warga Jakarta.
Perkembangan Awal Sistem Transportasi di Jakarta
Mengumpulkan tim yang terdiri dari akademisi dan pakar transportasi, mantan Gubernur kemudian melakukan penelitian untuk menganalisis penyebab kemacetan di Jakarta. Pengumpulan data tersebut menjadi dasar dalam perumusan solusi dan kebijakan transportasi yang lebih efektif.
Dalam proses penelitian, ia juga melakukan studi banding ke negara-negara lain yang memiliki sistem transportasi baik. Salah satunya adalah Bogota, Kolombia, yang memiliki karakteristik urban yang mirip dengan Jakarta.
“Kota itu memiliki populasi yang padat dan jaringan transportasi yang efisien,” ujarnya. Hal ini memberikan inspirasi untuk mengembangkan sistem transportasi massal yang memadai di Jakarta.
Konsep Transportasi Massal yang Diterapkan
Dari kunjungan tersebut, mantan Gubernur mengenal beberapa konsep transportasi massal seperti MRT dan Busway. Mengenal transportasi sungai saat berkunjung ke Belanda, ia berkomitmen untuk menerapkan berbagai inovasi untuk mengoptimalkan sistem transportasi di ibukota.
Ia mencatat bahwa penggunaan kendaraan umum di Jakarta saat itu sangat rendah, hanya sekitar 20 persen. Sebaliknya, kendaraan pribadi justru mendominasi dengan persentase mencapai 80 persen, sebuah ketidakseimbangan yang perlu segera ditangani.
Pemerintah Provinsi pun menyusun pola transportasi makro yang mencakup pembangunan MRT, LRT, dan Busway. Namun, tantangan besar muncul saat keterbatasan anggaran menjadi penghambat dalam pelaksanaan rencana tersebut.
Tantangan dan Strategi dalam Pembangunan Transportasi
Mantan Gubernur menjelaskan bahwa, saat itu, kepercayaan investor terhadap Jakarta masih rendah pasca kerusuhan 1998. Meskipun demikian, ia tetap meyakini pentingnya melanjutkan rencana yang telah disusun untuk mengatasi permasalahan transportasi dalam jangka panjang.
Dengan dorongan kuat untuk memulai proyek, Pemprov memutuskan untuk fokus pada pembangunan sistem Busway yang lebih terjangkau. Proyek ini hanya membutuhkan pengadaan separator jalan, bus, dan perekrutan sopir, membuatnya lebih cepat untuk direalisasikan.
Koridor pertama yang ditetapkan adalah rute Blok M-Kota, mengingat tingkat mobilitas yang tinggi di jalur tersebut. Pembangunan ini menjadi langkah awal yang signifikan dalam memperbaiki sistem transportasi di Jakarta.
Saat ini, mantan Gubernur mengungkapkan rasa bangganya melihat Transjakarta telah menjadi primadona bagi warga Jakarta. Sistem transportasi ini telah berhasil menarik minat masyarakat dan memberikan alternatif yang lebih baik dibanding menggunakan kendaraan pribadi.






















