Dalam dunia pendidikan yang semakin kompetitif, kisah Tomo menyoroti tantangan yang dihadapi banyak orang tua dan siswa di Indonesia. Dia berbicara tentang pengalamannya dengan sistem yang sering memprioritaskan koneksi daripada kemampuan sebenarnya, yang meninggalkan dampak negatif bagi masyarakat.
Pentingnya prinsip kejujuran dalam mencapai kesuksesan adalah inti dari pandangannya. Tomo merasa bahwa mempersiapkan masa depan anaknya tanpa jalur belakang sama dengan membangun fondasi yang kuat.
“Jangan pakai koneksi. Jika kita menggunakan jalur belakang, sama saja kita memberikan pendidikan yang tidak baik. Kita harus jujur agar tidak terjebak dalam lingkaran korupsi,” tegasnya dengan penuh keyakinan.
Pendidikan dan Kesiapan Kerja yang Memprihatinkan
Tomo yang juga seorang pengajar mencermati fenomena ketika lulus sekolah atau kuliah tidak lagi diiringi dengan kesiapan kerja yang memadai. Dia merasakan bahwa lulusan sekarang tampak lebih mudah dalam hal formalitas, tetapi seringkali kurang memiliki keterampilan praktis.
“Dulu, lulus D3 itu butuh usaha keras, tetapi ketika lulus, kita benar-benar siap untuk terjun ke dunia kerja. Namun sekarang, banyak yang hanya fokus mendapatkan nilai tanpa benar-benar mempersiapkan diri untuk pekerjaan,” ujar Tomo dengan nada kritis.
Keprihatinannya bukan tanpa alasan; ia melihat banyak lulusan yang hanya mengejar angka di atas kertas, tanpa pengalaman yang cukup untuk memenuhi tuntutan industri. Ini menjadi perhatian baginya untuk generasi mendatang.
Pentingnya Job Fair dan Kualitas Pendidikan
Melihat fenomena tersebut, Tomo berharap pemerintah tidak hanya meningkatkan jumlah job fair, tetapi juga memperhatikan kualitas pendidikan yang diberikan. Ia percaya bahwa lulusan harus dibekali dengan keahlian yang relevan untuk dunia kerja, bukan sekadar ijazah yang tak bermakna.
“Kita membutuhkan pendidikan yang mengajarkan keterampilan nyata dan pengalaman praktis. Hanya dengan cara itu, lulusan dapat bersaing dan berkontribusi dalam pembangunan negara,” tambahnya.
Keberhasilan pendidikan seharusnya diukur tidak hanya dari berapa banyak yang lulus, tetapi dari seberapa siap mereka menghadapi tantangan di dunia nyata. Ini menjadi point penting yang harus dipikirkan semua pihak terkait.
Menumbuhkan Kesadaran dalam Berpendidikan
Untuk membangun kesadaran di kalangan orang tua dan siswa tentang pentingnya pendidikan yang berkualitas, Tomo menyarankan agar mereka lebih aktif terlibat dalam proses pemilihan program pendidikan. Ini termasuk pemilihan jurusan yang tepat dan relevan dengan kebutuhan pasar kerja.
“Kita harus berani bertanya dan mengeksplorasi, jangan hanya asal mengikuti arus. Pendidikan yang baik adalah yang sesuai dengan potensi anak, bukan sekadar tren,” pesannya kepada orang tua.
Pentingnya keterlibatan orang tua dalam pengembangan pendidikan anak tidak bisa dianggap remeh. Mereka harus berperan aktif dalam mendukung minat dan bakat anak sejak dini.




















