PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menunjukkan prestasi signifikan dalam mengubah struktur pendanaannya demi menciptakan efisiensi yang berkelanjutan. Dalam konteks ekonomi yang menantang, strategi bank ini semakin fokus pada pengumpulan dana murah melalui berbagai inovasi layanan digital.
BRI berhasil mencapai peningkatan yang mencolok dalam pengelolaan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mengarah pada penurunan biaya pendanaan. Hasil ini mencerminkan upaya yang lebih baik dalam menjaga kestabilan dan pertumbuhan melalui pemanfaatan teknologi terkini di sektor perbankan.
Per 2026, BRI mengumpulkan DPK mencapai Rp1.555,1 triliun, naik 9,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Kontribusi CASA semakin mendominasi, mencapai 68,07% dari total DPK, yang menunjukkan tren positif dalam pengelolaan likuiditas yang efisien.
Transformasi Bisnis BRI dan Strategi Efisiensi Pendanaan
Salah satu elemen penting dalam transformasi BRI adalah penguatan dana murah atau CAS. Efisiensi ini mengarah pada penurunan biaya dana dari 2,98% menjadi 2,33% dalam periode satu tahun. Ini merupakan indikasi bahwa BRI mampu mengelola sumber dananya dengan lebih baik.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menekankan pentingnya CASA dalam strategi perusahaan. Hal ini berfungsi untuk menekan biaya operasional, serta memperkuat struktur pendanaan BRI di era yang semakin digital. Dengan adanya transaksi yang meningkat pada platform digital, BRI menunjukkan respon yang baik terhadap perubahan perilaku nasabah.
Dengan fondasi yang kuat, BRI tidak hanya mengejar pertumbuhan secara kuantitas, tetapi juga kualitas. Peningkatan efisiensi ini memastikan bank dapat menjaga keseimbangan antara pertumbuhan profitabilitas dan pengelolaan risiko yang lebih baik.
Kinerja Keuangan dan Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan BRI
Perkembangan positif BRI terlihat dari total aset yang tumbuh 7,2% menjadi Rp2.250 triliun. Kredit dan pembiayaan juga mengalami peningkatan yang signifikan, mencapai Rp1.562 triliun, mencerminkan soliditas kinerja keuangan bank.
Laba bersih konsolidasian pun mengalami kenaikan sebesar 13,7% menjadi Rp15,5 triliun. Hasil ini menunjukkan bahwa upaya pengelolaan dana dan transformasi bisnis BRI mulai memberikan hasil yang nyata.
Analisis yang lebih mendalam menunjukkan bahwa penguatan struktur pendanaan BRI memberikan dampak positif bagi kualitas kredit yang disalurkan. Ini sejalan dengan strategi manajemen risiko yang lebih terencana, membantu Bank dalam menghadapi tantangan ekonomi yang terus berkembang.
Peran Danantara dalam Mendorong Transformasi BUMN Secara Menyeluruh
Danantara berupaya untuk memastikan BUMN tidak hanya tumbuh dalam skala bisnis, tetapi juga menjadi lebih sehat dari aspek tata kelola dan efisiensi. Dengan dukungan yang tepat, Danantara mendorong perusahaan-perusahaan negara untuk memiliki fundamental yang kuat dan berkelanjutan.
Kepala Badan Pelaksana BUMN Dony Oskaria menegaskan bahwa penyempurnaan tata kelola dan manajemen risiko adalah inti dari transformasi. Dengan struktur yang baik, BUMN diharapkan mampu menghadapi tantangan dan berkontribusi lebih besar bagi perekonomian nasional.
Pembangunan risk management yang solid adalah langkah penting dalam menciptakan ketahanan institusi. Perusahaan yang dikelola dengan baik akan lebih mudah beradaptasi dan bertahan dalam kondisi yang tidak terduga di masa depan.




















