Keluarga Keraton Surakarta kini terjerat dalam sebuah konflik yang melibatkan penobatan raja baru. Perebutan tahta ini memicu ketegangan di antara pihak-pihak yang merasa memiliki hak atas gelar yang diwariskan.
Konflik ini berawal setelah penobatan KGPH Hangabehi, yang dikenal sebagai Mangkubumi, sebagai Pakubuwana XIV. Sangat disayangkan bahwa drama ini kemungkinan akan berlanjut ke meja hijau, menambah preseden buruk bagi sejarah panjang Keraton Surakarta.
GKR Timoer Rumbay Kusuma Dewayani, kakak dari Pakubuwana XIV Purbaya, mengungkapkan kekecewaannya. Timoer menyatakan bahwa mereka telah berusaha menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan, namun menemui jalan buntu.
Konflik Sejarah yang Terulang Kembali di Keraton Surakarta
Keraton Surakarta telah lama dikenal dengan sejarah perebutan tahta yang kompleks. Salah satu peristiwa yang paling mencolok terjadi setelah kepergian Pakubuwana XII, di mana dua putra dari istri yang berbeda sama-sama mengklaim hak pewarisan.
Dalam situasi yang mirip dengan sekarang, KGPH Hangabehi dan KGPH Tedjowulan pernah mengalami konflik serupa, mengarah pada dualisme kepemimpinan. Hal ini menciptakan ketegangan dalam struktur tradisional kerajaan.
Timoer percaya bahwa konflik ini harus dihindari demi menjaga keharmonisan keluarga. Dia menyatakan bahwa mereka telah berusaha untuk merangkul semua pihak, tetapi pertemuan yang diadakan tidak membuahkan hasil yang memuaskan.
Kepastian Hukum yang Akan Ditempuh
Timoer menegaskan niat untuk membawa sengketa ini ke jalur hukum sebagai solusi yang paling mungkin. Menurutnya, langkah tersebut diambil setelah ikhtiar untuk menyelesaikan masalah secara damai gagal.
Dia berharap agar semua pihak yang terlibat dapat menerima hasil yang fair, demi menghindari penambahan luka di dalam keluarga. Timoer mencatat bahwa saat dia menemui Kanjeng Wiro, adik ipar dari Pakubuwana XIII, juga memiliki pandangan yang sama.
Perebutan tahta ini bukan semata-mata mengenai hak individu, tetapi juga tentang masa depan Keraton Surakarta sebagai simbol budaya dan sejarah Indonesia. Dengan langkah hukum yang diambil, diharapkan ada kejelasan dan ketegasan dalam kepemimpinan selanjutnya.
Reaksi Masyarakat dan Nilai Budaya Keraton
Reaksi masyarakat terhadap konflik ini beragam, dengan beberapa mengharapkan resolusi yang damai. Di sisi lain, sebagian warga merasa bahwa tradisi Keraton Surakarta semakin terancam akibat ketidakpastian ini.
Banyak yang percaya bahwa kerajaan seharusnya menjadi simbol persatuan dan kekuatan budaya. Ketika konflik internal semacam ini muncul, harga diri dan citra Keraton dapat terganggu, menciptakan efek domino yang mungkin akan merusak reputasi.
Penting bagi aktor di balik layar, dalam hal ini pihak kerajaan dan keluarga, untuk menunjukkan keteladanan dalam menyelesaikan masalah. Masyarakat berharap agar mereka dapat berdiskusi dan bernegosiasi dengan cara yang lebih konstruktif.







