Salah satu tantangan besar yang dihadapi saat penanganan bencana di Aceh adalah aksesibilitas yang terputus serta kesulitan dalam memperoleh air bersih. Meskipun demikian, berbagai fasilitas kesehatan tetap berusaha beroperasi meskipun di tengah keterbatasan yang ada.
“Kondisi krisis air memengaruhi layanan kesehatan secara signifikan,” kata dokter spesialis obstetri, Muhammad Nurhadi Rahman. Ia menekankan bahwa pemadaman air yang terjadi dari pukul 10 pagi hingga 7 malam sangat berdampak pada kegiatan medis sehari-hari.
Merespons permasalahan ini, Pemimpin Tim Cadangan Kesehatan – Emergency Medical Team, Academic Health System dari Universitas Gadjah Mada berkolaborasi dengan tim relawan dari Universitas Teuku Umar dan Politeknik Negeri Lhokseumawe. Kerjasama ini bertujuan untuk menciptakan solusi berupa sistem penjernih air yang dapat membantu masyarakat.
Inisiatif ini ditujukan untuk memperkuat layanan kesehatan di puskesmas yang terdampak bencana di Kabupaten Bener Meriah. Melalui program ini, mereka memanfaatkan teknologi penjernih air yang bertenaga surya sebagai bagian dari pengabdian masyarakat dalam konteks tanggap darurat bencana.
Tim yang dipimpin oleh Dr. Sc. Adhy Kurniawan, S.T. dari Teknik Sipil Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, berhasil melakukan pemasangan sistem penjernih air sederhana di RSUD Bener Meriah. Hal ini merupakan langkah awal untuk meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan di wilayah yang terdampak oleh bencana.
Sesuai dengan hasil asesmen awal, fokus penempatan alat penjernih air kemudian akan dilakukan di beberapa titik krusial lainnya. Antara lain di Posko Pengungsian Pantan Kemuning, Puskesmas Mesidah, dan Polindes yang terletak di daerah Simpur.
“Kami berkomitmen untuk terus melanjutkan penempatan alat penjernih air bertenaga surya di lokasi-lokasi lain yang sangat dibutuhkan,” sambung Adhy Kurniawan. Hal ini menunjukkan dedikasi tim dalam memberikan bantuan yang dibutuhkan oleh masyarakat lokal.
Peran Penting Sistem Penjernih Air dalam Penanganan Bencana
Pengadaan sistem penjernih air di daerah terdampak bencana sangat penting, terutama dalam konteks penyediaan air bersih. Air bersih menjadi salah satu kebutuhan dasar yang berperan vital dalam menjaga kesehatan masyarakat di wilayah tersebut.
Kurangnya akses air bersih berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit yang dapat menyebar di kalangan pengungsi dan masyarakat yang tinggal di area bencana. Oleh karena itu, keberadaan sistem penjernih air ini sangat krusial bagi upaya pencegahan penyakit.
Lebih jauh, sistem ini juga diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi kualitas hidup masyarakat. Dengan adanya air bersih, diharapkan masyarakat bisa lebih fokus dalam pemulihan dan rehabilitasi pasca bencana.
Selain itu, penjernih air bertenaga surya juga mencerminkan inovasi yang ramah lingkungan. Penggunaan energi terbarukan dalam konteks tanggap darurat ini menunjukkan pendekatan yang berkelanjutan dan menyeluruh dalam penanganan bencana.
Kolaborasi Antara Perguruan Tinggi dan Masyarakat dalam Penanganan Bencana
Kerjasama antara Universitas Gadjah Mada, Universitas Teuku Umar, dan Politeknik Negeri Lhokseumawe menjadi model kolaborasi yang sangat menguntungkan bagi masyarakat. Sinergi antara akademisi dan komunitas lokal dalam upaya penanganan bencana sangatlah penting.
Tim relawan dari berbagai perguruan tinggi membawa pengetahuan dan keahlian yang diperlukan untuk merancang dan mengimplementasikan solusi yang efektif. Ini adalah contoh bagaimana pendidikan tinggi dapat berkontribusi langsung dalam penanganan masalah sosial.
Melalui pendekatan interdisipliner, upaya ini tidak hanya fokus pada aspek teknis, melainkan juga pada penguatan kapasitas komunitas lokal. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga diberdayakan untuk menghadapi kondisi serupa di masa mendatang.
Inisiatif semacam ini menunjukkan pentingnya penelitian dan inovasi dalam merespon kebutuhan masyarakat. Perguruan tinggi harus terus berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menciptakan solusi yang relevan dan berkelanjutan.
Langkah Selanjutnya dalam Program Penanganan Bencana
Keberhasilan pemasangan sistem penjernih air di titik awal menjadi cikal bakal bagi langkah-langkah selanjutnya dalam program ini. Tim mengidentifikasi kebutuhan lebih lanjut yang akan menjadi prioritas dalam penanganan bencana.
Sesuai dengan hasil evaluasi dan asesmen yang telah dilakukan, lokasi-lokasi lain yang membutuhkan intervensi segera akan diidentifikasi. Pendekatan ini memastikan bahwa bantuan yang diberikan tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui pemantauan dan evaluasi terus menerus, tim dapat menyesuaikan program untuk meningkatkan efektivitas dalam penanganan krisis. Hal ini akan memberikan dasar yang lebih kuat bagi pengambilan keputusan di masa mendatang.
Ke depan, pelibatan masyarakat dalam proses pemeliharaan sistem penjernih air juga sangat penting. Hal ini tidak hanya memastikan keberlanjutan proyek, tetapi juga memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan dan kesehatan.
Seiring berjalannya waktu, diharapkan program ini dapat dikembangkan lebih jauh untuk menjangkau lebih banyak area terdampak. Dengan demikian, masyarakat dapat menjalani kehidupan yang lebih baik meski di tengah tantangan yang ada.







