Komunitas Bumi Bajra baru-baru ini membawakan sebuah pertunjukan yang menggabungkan seni, mitologi, dan musikal. Lakon berjudul “Hyang Ratih: Ode untuk Bulan, Perempuan, dan Semesta” mempersembahkan kisah menarik yang terinspirasi dari mitologi Bali di Festival Musikal Indonesia (FMI).
Panggung Festival di Taman Ismail Marzuki (TIM) menjadi saksi dari kisah yang berputar di sekitar sosok Kala Rau, raksasa yang terperangkap dalam ambisi dan dendam. Pertunjukan ini sukses menggambarkan konflik universal yang bisa dinikmati oleh berbagai kalangan penonton.
Menurut komposer musik pertunjukan, Ida Made Adnya Gentorang, konflik utama dimulai ketika para dewa membagikan tirta keabadian. Kala Rau, yang cerdik, menyamar agar bisa mendapatkan tirta keabadian dan menambah kesaktiannya, menciptakan ketegangan yang memikat.
Menelusuri Latar Belakang Kisah “Hyang Ratih” dan Pesannya
Kisah ini tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga mengajak penonton untuk merenungkan tema tentang keserakahan dan akibat dari tindakan egois. Kala Rau yang terpergok oleh Dewi Ratih, sosok bulan yang penuh kebijaksanaan, menjadi simbol dari keadilan yang harus ditegakkan.
Pada saat perlakuan keras para dewa mengakibatkan kemarahan Kala Rau, kita dipaksa untuk mempertanyakan moralitas dalam tindakan tersebut. Apakah tindakan membalas dendamnya dapat dibenarkan? Ini adalah pertanyaan yang terbuka bagi setiap penonton untuk dijawab sendiri.
Di balik setiap karakter, terdapat representasi nilai-nilai yang mendalam, membuat pertunjukan ini lebih dari sekadar tontonan. Misi Bumi Bajra adalah menghidupkan kisah-kisah seperti ini agar dapat saling terhubung dengan penonton di era modern.
Persiapan Singkat namun Bermakna untuk Pertunjukan
Meskipun persiapan tampak singkat, hanya berkisar satu minggu, Bumi Bajra mampu menghadirkan pertunjukan yang memukau. Dalam waktu tersebut, mereka melakukan latihan intensif khusus untuk tari dan musik, yang diolah dalam waktu kurang lebih tiga hari saja.
Latihan yang padat ini menuntut seluruh tim untuk bekerja sama dan bersinergi. Aspek kolaborasi ini menjadi sangat penting dalam menciptakan keutuhan pertunjukan yang berkesan bagi penonton.
Keberhasilan pertunjukan ini menunjukkan bahwa dengan dedikasi dan komitmen, batasan waktu dapat dilampaui. Energi dan semangat para pemain dan tim produksi terlihat jelas dalam performa mereka di pentas.
Pandangan Berbeda dalam Menafsirkan Pertunjukan
Salah satu poin kuat dari pementasan ini adalah penekanan bahwa pesan yang ingin disampaikan tidak harus seragam. Bumi Bajra mengajak penonton untuk menginterpretasikan karya tersebut melalui lensanya masing-masing.
Adanya kompleksitas dalam narasi mengundang penonton untuk berpartisipasi dalam pengalaman emosional. Ini memberikan ruang bagi pemahaman yang lebih mendalam, memungkinkan variasi makna yang berbeda muncul di antara mereka.
Dengan cara ini, pertunjukan tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga medium refleksi personal bagi setiap individu. Penonton diharapkan mampu mengartikulasi perasaan dan pemikiran mereka setelah melihat pertunjukan.







