Jakarta – Dalam perkembangan terkini, perhatian publik tertuju pada kasus AKP Pardiman yang menjabat sebagai Kepala Satuan Reserse Narkoba di Polres Tangerang Selatan. Penangkapan yang dilakukan oleh Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri ini menyisakan banyak pertanyaan mengenai praktik penegakan hukum dan integritas aparat negara.
Bagaimana mungkin seorang anggota kepolisian yang pernah dianugerahi penghargaan bisa terlibat dalam kasus yang mencoreng citra institusi? Pertanyaan inilah yang muncul menyusul penangkapan yang mengejutkan ini, mengingat rekam jejaknya yang sebelumnya cukup baik dalam menangani kasus narkoba.
Melihat lebih dalam, Pardiman menerima penghargaan pada 29 April 2026, sebuah pengakuan atas kinerjanya dalam mengungkap berbagai kasus narkotika di Polres Tangerang Selatan. Penghargaan ini tidak hanya diberikan kepada Pardiman, tetapi juga kepada 47 personel lainnya yang menunjukkan dedikasi tinggi dalam pelayanan publik.
Sangat ironis, mengingat ia diangkat sebagai Kasat Resnarkoba menggantikan AKP Bachtiar Noprianto, berdasarkan Surat Telegram Polda Metro Jaya. Dalam waktu singkat, Pardiman berkontribusi untuk mengungkap sekitar 13 kasus peredaran obat terlarang di wilayahnya.
Namun, situasi berubah drastis ketika Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri menangkapnya bersama tujuh personel lainnya. Penangkapan ini semakin mengganggu ketenangan publik yang mendukung upaya penegakan hukum terhadap narkoba di negara ini.
Direktur Tindak Pidana Narkoba, Brigjen Pol Eko Hadi Santoso, mengkonfirmasi bahwa penangkapan dilakukan oleh tim gabungan Subdit IV dan Satgas NIC Dittipidnarkoba. Kombes Handik Zusen dan Kombes Kevin Leleury memimpin operasi yang mengungkap keterlibatan Pardiman dalam dugaan penyalahgunaan narkoba.
Kasus Penangkapan AKP Pardiman dan Dampaknya Bagi Institusi Kepolisian
Kejadian ini menyisakan dampak yang cukup luas bagi citra institusi kepolisian. Ketika satu anggota melakukan kesalahan serius, seluruh institusi terkadang harus menanggung konsekuensi dari tindakan tersebut. Roda kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum pun dapat berisiko terganggu.
Hal ini terutama berlaku ketika seorang perwira tinggi terlibat dalam kasus serius. Kasus ini dapat memicu pertanyaan mengenai sistem seleksi dan pengawasan yang ada dalam struktur kepolisian yang seharusnya memastikan setiap anggotanya menjalankan tugas dengan baik.
Bagaimana pula dengan penanganan kasus narkoba di tingkat operasional? Seharusnya para petugas di lapangan memiliki etika dan integritas yang tinggi, terutama ketika mereka dihadapkan pada tekanan dari berbagai pihak. Kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua lembaga penegakan hukum untuk lebih selektif dan teliti dalam memilih serta mengawasi personelnya.
Kepercayaan masyarakat sangat bergantung pada bagaimana penegak hukum berperilaku. Ketika kepercayaan ini terganggu, bukan hanya kredibilitas polisi yang dipertaruhkan, tetapi juga keseluruhan sistem hukum yang ada di negara tersebut.
Reaksi Publik dan Keluarga Besar Polri
Setelah berita penangkapan ini menyebar, reaksi dari berbagai lapisan masyarakat pun bermunculan. Banyak yang merasa kecewa, bahkan marah, mengingat harapan besar terhadap korps kepolisian sebagai pelindung masyarakat. Kasus ini menjadi simbol betapa sulitnya menjaga disiplin di institusi yang harusnya menjadi panutan.
Tidak sedikit warga yang menginginkan transparansi dalam penyelidikan yang dilakukan. Mereka berharap kasus ini ditangani secara profesional tanpa adanya unsur penutupan informasi, agar kepercayaan masyarakat bisa tetap terjaga. Harapan tinggal pada bagaimana pihak kepolisian bertindak setelah insiden ini.
Di sisi lain, keluarga besar Polri juga merasakan dampak dari kasus ini. Pihak internal merasa perlu melakukan evaluasi mendalam terhadap prosedur dan kebijakan yang berlaku. Hal tersebut penting untuk merestorasi kepercayaan, baik dari masyarakat maupun dari lingkungan internal kepolisian itu sendiri.
Selain itu, pembenahan perlu dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang. Masyarakat berharap adanya mekanisme yang lebih ketat agar integritas anggota kepolisian tetap terjaga, demi kepentingan bangsa dan negara.
Pentingnya Transparansi dan Akuntabilitas dalam Penegakan Hukum
Transparansi dan akuntabilitas dalam penegakan hukum merupakan fondasi penting yang harus dijaga. Tanpa kedua prinsip ini, keberhasilan dalam menangani kasus-kasus kriminal, terutama yang berkaitan dengan narkoba, akan sulit dicapai. Jika aparatnya sendiri melakukan pelanggaran, bagaimana mungkin mereka bisa menangani orang lain?
Peran masyarakat sipil juga tidak kalah penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan tertib. Masyarakat perlu aktif berpartisipasi dalam pengawasan terhadap kegiatan penegakan hukum agar bisa mendorong perbaikan yang berkelanjutan dalam institusi kepolisian. Adanya sinergi antara publik dan aparat diperlukan agar penegakan hukum berjalan efektif.
Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Dalam konteks kebijakan narkoba, perlunya penegakan hukum yang adil dan berimbang harus diperhatikan, tanpa mengabaikan prinsip-prinsip kemanusiaan.
Masyarakat berharap agar ke depan, dengan adanya pengalaman pahit ini, para penegak hukum bisa belajar dan berbenah. Terlebih lagi, mereka yang bertugas di garis depan wajib mempunyai komitmen untuk menegakkan hukum tanpa tebang pilih.






















