Keluarga korban tenggelamnya Kapal Motor (KM) Nurul Salsa di perairan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, melaporkan tragedi tersebut kepada pihak berwenang. Kasus ini menjadi sorotan publik, terutama karena adanya anak, Naurah yang berusia delapan tahun, yang dilaporkan hilang setelah insiden tersebut.
Berita duka ini diangkat oleh paman Naurah, Hasrul, yang menjelaskan bahwa keputusan untuk melapor diambil setelah berdiskusi dalam keluarga. Mereka merasa perlu untuk menuntut penjelasan atas hilangnya anggota keluarga akibat tenggelamnya kapal tersebut.
Sejak awal tragedi, keluarga korban telah merinci serangkaian langkah untuk memastikan insiden ini tidak terabaikan. Mereka percaya bahwa dengan melapor, mereka bisa mendapatkan keadilan dan kepastian tentang keadaan anak mereka yang hilang dan keluarganya.
Detail Kejadian Tenggelamnya KM Nurul Salsa di Selayar
KM Nurul Salsa tenggelam pada Rabu, 15 Juli, saat berlayar dari Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng di Pulau Selayar. Pada saat perjalanan, kapal mengalami masalah mesin sekitar 43 mil dari pelabuhan, dan meski berusaha bertahan, kapal tersebut akhirnya terbalik di tengah gelombang tinggi dan angin kencang.
Mengetahui berita ini, keluarga korban menduga bahwa ada kelalaian terkait perawatan mesin yang menyebabkan terjadinya kecelakaan. Mereka berpendapat bahwa mesin kapal sengaja dipadamkan ketika berlayar, yang berpotensi menjadi penyebab utama tenggelamnya kapal.
Hasrul mengungkapkan bahwa diskusi antara anggota keluarga menunjukkan adanya kekhawatiran tentang keselamatan di laut dan pentingnya melakukan evaluasi untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. Laporannya ke polisi diharapkan dapat memicu investigasi menyeluruh.
Status Penyelidikan dan Respon Pihak Berwenang
Pihak kepolisian setempat, diwakili oleh Aipda Suardi Andre, menyatakan bahwa laporan dari keluarga akan ditangani secara serius. Penyelidikan awal telah dilakukan dengan memeriksa lebih dari 20 saksi, termasuk nakhoda dan anak buah kapal.
Proses penyelidikan ini dianggap perlu untuk memastikan bahwa semua fakta diungkap dan keluarga bisa mendapatkan kejelasan mengenai kejadian yang mengubah hidup mereka. Suardi menyatakan pentingnya transparansi dalam penanganan kasus ini.
Pihak kepolisian juga menyebutkan tentang rencana untuk menggelar perkara yang bisa meningkatkan status kasus ini menjadi penyidikan jika ditemukan cukup bukti. Hal ini menunjukkan bahwa langkah hukum akan terus berlanjut hingga semua pihak merasa mendapatkan keadilan.
Kondisi dan Upaya Pencarian Korban yang Hilang
Setelah tujuh hari operasi pencarian, tim Basarnas memperpanjang waktu pencarian untuk menemukan para korban yang masih hilang. Sejumlah 16 penumpang belum ditemukan, dan ini mengindikasikan perlunya tindakan lebih lanjut dalam pencarian yang dilakukan.
Operasi pencarian dipusatkan di wilayah Kepulauan Sabalana dan perairan Nusa Tenggara Barat, berdasarkan analisis arus laut. Penempatan tim SAR dalam dua sektor dilakukan untuk memastikan cakupan pencarian lebih efektif di daerah yang dianggap berisiko.
Dalam menghadapi tantangan cuaca dan gelombang tinggi, tim SAR tetap berfokus untuk mencari sisa penumpang. Isu cuaca ekstrem telah menjadi salah satu hambatan besar dalam mendukung upaya pencarian yang lebih cepat dan efisien.






















