Pemerintah Indonesia kini tengah berupaya merubah Bali menjadi Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) yang dirancang untuk meningkatkan daya saing nasional dalam sektor keuangan global. Langkah ini diharapkan dapat menarik lebih banyak investasi serta memperkuat posisi Indonesia di panggung internasional.
Dalam proses pengembangan ini, pemerintah mengambil inspirasi dari model Dubai, yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat keuangan terkemuka dunia. Dengan mengadopsi beberapa praktik efektif dari Dubai, Indonesia berambisi menjadikan Bali sebagai magnet industri keuangan internasional.
Mengapa Bali Dipilih Sebagai Pusat Finansial Internasional?
Bali tidak hanya dikenal dengan keindahan alam dan budaya yang kaya, tetapi juga memiliki potensi besar untuk perkembangan ekonomi. Keputusan untuk memilih Bali didasari oleh kemampuan pulau ini menarik perhatian investor asing serta pertumbuhan industri pariwisata yang sudah terintegrasi dengan berbagai sektor lainnya.
Tahapan awal dalam pengembangan PFII meliputi penyusunan regulasi yang mendukung mudahnya investasi. Pembentukan infrastruktur yang kuat dan berstandar internasional juga menjadi prioritas utama pemerintah untuk memastikan dapat memenuhi kebutuhan para investor.
Pemerintah aktif melibatkan semua pemangku kepentingan dalam proses ini, mulai dari lembaga keuangan hingga pengusaha lokal, untuk menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan di PFII. Kolaborasi ini diharapkan dapat menciptakan sinergi yang menguntungkan bagi semua pihak.
Benchmark: Dubai Internasional Financial Centre
Pemerintah Indonesia menjadikan Dubai International Financial Centre (DIFC) sebagai acuan dalam pengembangan PFII. DIFC berhasil menarik ribuan profesional dan perusahaan multinasional berkat insentif pajak yang sangat menarik dan kebijakan yang pro-bisnis.
Dubai memiliki kebijakan pajak korporasi nol persen selama periode tertentu, menjadikannya lokasi favorit bagi perusahaan yang ingin mengurangi beban pajak. Dengan menggunakan model ini, pemerintah berharap dapat mengundang lebih banyak investor ke Bali untuk membangun ekosistem keuangan yang sehat dan berkelanjutan.
Tak hanya itu, komunitas profesional yang terlibat di DIFC juga menjadi inspirasi dalam konteks pengembangan SDM di Bali. Indonesia perlu mempersiapkan tenaga kerja yang berkompeten dan terampil untuk mendukung perkembangan PFII ke depan.
Peran Kementerian dan BP BUMN dalam Pengembangan PFII
Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) memainkan peran penting dalam pengembangan ini. Mereka bertugas mendorong terciptanya kebijakan yang mendukung serta memfasilitasi investasi di sektor keuangan. Melalui kerjasama dengan pihak relevant, mereka berupaya menciptakan landasan yang kuat untuk PFII.
Dalam pertemuan yang diadakan pada 14 Juli 2026, BP BUMN membahas strategi investasi dan pembangunan ekosistem keuangan yang berstandar global. Ini termasuk peran Danantara Indonesia dalam pengembangan infrastruktur dan layanan yang akan mendukung PFII.
Melalui langkah-langkah progresif ini, diharapkan Bali tidak hanya menjadi pusat keuangan tetapi juga bisa menciptakan lapangan kerja baru dan mendongkrak ekonomi lokal. Sebuah langkah yang dapat membuka banyak peluang bagi masyarakat setempat.






















