Wilayah Kabupaten Buol, yang terletak di Sulawesi Tengah, mengalami gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,4 pada malam hari, menyebabkan kerusakan yang cukup signifikan pada beberapa bangunan. Berdasarkan laporan yang diterima, satu korban jiwa juga dilaporkan, yang merupakan seorang pasien di RSUD Buol.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buol, Moh Kachfi Mardjuni, menyampaikan informasi mengenai situasi terkini di daerah tersebut. Dia menjelaskan bahwa laporan awal menunjukkan adanya kerusakan pada berbagai fasilitas akibat guncangan gempa yang dirasakan cukup kuat oleh warga.
“Kami menerima data sementara yang menyebutkan satu korban meninggal dunia, yang didapati di rumah sakit akibat dampak langsung dari gempa,” ujar Kachfi dalam keterangannya. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran di masyarakat, yang lebih memilih untuk mencari tempat aman dari kemungkinan adanya gempa susulan.
Detail Terjadinya Gempa dan Dampaknya pada Wilayah Buol
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa gempa terjadi pada pukul 20.46 WITA di malam hari. Dari analisis yang dilakukan, pusat gempa berada pada sekitar 37 kilometer timur laut Buol dengan kedalaman 10 kilometer, terklasifikasi sebagai gempa dangkal.
Kachfi juga mengungkapkan bahwa guncangan gempa dirasakan kuat hingga ke beberapa daerah sekitar seperti Tolitoli, Parigi Moutong, bahkan sampai ke daerah Marisa dan Tilamuta di Provinsi Gorontalo. Pengalaman ini membuat warga di beberapa tempat berhamburan keluar rumah dan memilih untuk mengungsi.
Akibat guncangan gempa ini, BPBD mencatat sejumlah kerusakan yang terjadi. Beberapa fasilitas seperti kantor pelayanan publik, ruang perawatan di RSUD Buol, serta bangunan dalam komunitas mengalami kerusakan, sehingga memerlukan perhatian lebih dari pemerintah daerah.
Respon dan Upaya Penanganan dari Pihak Berwenang
Menanggapi situasi darurat ini, BPBD, bersama dengan pemerintah daerah, melakukan asesmen untuk mengevaluasi kerusakan dan kebutuhan masyarakat yang terdampak. Kachfi menekankan pentingnya respon cepat agar masyarakat dapat mendapatkan bantuan yang diperlukan.
Setelah melakukan penilaian, situasi malam itu dilaporkan sudah mulai kondusif. Banyak warga yang telah kembali ke rumah, meskipun pemerintah lokal tetap mengingatkan agar mereka tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan di masa yang akan datang.
Pihak berwenang juga berkoordinasi dengan masyarakat untuk memberikan arahan dan informasi mengenai langkah-langkah yang harus diambil jika terjadi guncangan lebih lanjut. Ini penting demi memastikan keselamatan warga di daerah rawan bencana.
Keterangan dan Penjelasan dari BMKG Terkait Kekuatan Gempa
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, dalam pernyataannya menyampaikan bahwa gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Hal ini disampaikan untuk memberikan kepastian kepada masyarakat agar tidak panik berlebihan setelah mengalami guncangan.
Dia juga menjelaskan bahwa getaran yang dirasakan di daerah sekitar dibagi dalam skala MMI. Skala IV MMI dilaporkan dirasakan di Karamat, Biau, dan sekitar Kota Tolitoli, sementara Skala III MMI dirasakan di wilayah Kota Parigi, yang diindikasikan dengan getaran yang cukup nyata dalam rumah.
“Mengacu pada lokasi episentrum dan kedalaman laut, jenis gempa ini dikategorikan sebagai gempa bumi dangkal, yang disebabkan oleh aktivitas subduksi. Analisis mekanisme menunjukkan bahwa gempa memiliki pergerakan naik geser (oblique-thrust),” tambah Wijayanto, memberikan penjelasan ilmiah mengenai peristiwa tersebut.






















