Polisi di Yogyakarta bekerja sama dengan Interpol untuk memburu seorang warga negara China yang diduga menjadi otak dari sindikat penipuan cinta yang beroperasi secara internasional. Sindikat tersebut berpusat di Sleman dan menggunakan aplikasi kencan untuk menipu korban di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Inggris.
Kasatreskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Riski Adrian, mengungkapkan bahwa warga negara China ini memanfaatkan jasa dari PT Altair Trans Service. Perusahaan ini beroperasi di Sleman dan dikenal menyediakan tenaga kerja untuk berbagai kebutuhan kliennya yang tidak jelas.
Aplikasi yang digunakan oleh sindikat ini adalah WOW, yang merupakan modifikasi dari aplikasi bernama Nayo, yang sayangnya tidak tersedia di Indonesia. Melalui aplikasi WOW, para pegawai di perusahaan tersebut melakukan praktik penipuan online dengan memperkirakan keuntungan mencapai Rp30 miliar per bulan.
Struktur dan Operasi Sindikat Penipuan Cinta
Anggaran dasar operasional sindikat ini telah mengubah wajah penipuan di dunia maya. Para pegawai di PT Altair Trans Service berperan sebagai admin dalam aplikasi WOW, yang menghubungkan mereka dengan korban internasional. Strategi mereka bukan hanya sekadar penipuan, tetapi juga memanfaatkan berbagai taktik manipulasi psikologis untuk menarik perhatian korban.
Pola interaksi mereka sangat terencana; para admin berusaha membangun hubungan emosional dengan para pengguna lainnya. Misi utama adalah agar para pengguna tersebut membeli koin yang kemudian digunakan untuk mengirimkan hadiah virtual, yang berjuluk gift dalam aplikasi ini.
Hadiah yang ditawarkan dalam aplikasi WOW digolongkan ke dalam beberapa kategori, mulai dari Mawar dengan harga 8 koin hingga Supercar seharga 999 koin. Dengan menggunakan koin tersebut, pengguna bisa mendapatkan akses ke berbagai konten yang dikelola oleh agen, tetapi tidak diproduksi oleh mereka.
Keuntungan Besar dari Penipuan Berkedok Cinta
Dalam setahun beroperasi, PT Altair Trans Service mampu meraup keuntungan fantastis, mencapai Rp30 miliar setiap bulannya. Dalam perhitungan kasar, setiap shift kerja karyawan ditargetkan untuk mengumpulkan dua juta koin, yang berarti secara kolektif, satu shift dapat menghasilkan lebih dari Rp10 miliar.
Gaji yang ditawarkan kepada para pegawai tidak mengecewakan, bervariasi mulai dari Rp2,4 juta hingga Rp3,5 juta per bulan, ditambah bonus berdasarkan kinerja. Namun, bagi pemilik perusahaan, pendapatan dari pemotongan gaji karyawan juga sangat signifikan, mencapai Rp750 ribu per orang setiap bulan.
Meski gaji dan bonusnya menjanjikan, struktur kerja di PT Altair Trans Service sangat ketat. Para agen dipantau langsung oleh klien dari China, yang memantau setiap interaksi untuk memastikan kinerja mereka maksimal selama waktu kerja.
Pengawasan yang Ketat dan Tindakan Hukum
Dari informasi yang disampaikan oleh Kompol Riski Adrian, pengawasan terhadap para agen juga sangat disiplin. Para pegawai diharuskan berinteraksi dengan beberapa pengguna sekaligus dan jika dalam 10 menit tidak ada aktivitas, klien akan langsung menegur. Hal ini menunjukkan betapa tinggi tekanan yang dihadapi para agen dalam menjalankan tugas mereka.
Pada saat penggerebekan, polisi berhasil menangkap enam orang sebagai tersangka. Mereka terdiri dari variasi peran, mulai dari pemilik hingga manajer proyek, dan juga sejumlah orang yang berfungsi sebagai team leader. Operasi ini melibatkan penyitaan berbagai perangkat elektronik, termasuk handphone dan laptop yang digunakan dalam praktik penipuan.
Para tersangka kini menghadapi beberapa pasal hukum yang serius. Mereka diduga melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik serta UU Pornografi. Dengan ancaman hukuman penjara mulai dari enam bulan hingga maksimal sepuluh tahun, kasus ini menjadi bukti nyata betapa seriusnya penipuan online yang mengincar orang-orang di seluruh dunia.







