Aktivitas pendakian Gunung Kerinci, yang terletak di perbatasan provinsi Jambi dan Sumatera Barat, saat ini masih ditutup meskipun aktivitas kegempaan telah mulai menurun. Penutupan ini dilakukan untuk melaksanakan ritual adat yang melibatkan masyarakat di sekitar kaki gunung tersebut dengan tujuan menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Kepala Resort Gunung Kerinci, Eko Supriyatno, mengungkapkan bahwa pengelola bekerja sama dengan pegiat lingkungan dan masyarakat setempat untuk melakukan kegiatan bersih-bersih sampah di jalur pendakian. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk menjaga kebersihan tetapi juga untuk melestarikan tradisi adat yang telah ada sejak lama.
Ritual adat yang dijadwalkan meliputi potong kambing sebagai bagian dari pembersihan rotasi dan penghormatan kepada alam. Hal ini dilakukan untuk memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan dalam melakukan aktivitas yang berhubungan dengan lingkungan di sekitar Gunung Kerinci.
Pentingnya Ritual Adat dalam Kebudayaan Masyarakat Sekitar Gunung Kerinci
Ritual adat merupakan bagian inti dari identitas dan kebudayaan masyarakat di sekeliling Gunung Kerinci. Sejak zaman dulu, tradisi ini telah menjadi simbol penghormatan kepada alam, yang diyakini memiliki kekuatan dan nuansa spiritual. Dalam setiap pelaksanaannya, masyarakat berupaya menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan.
Berbagai desa seperti Desa Kersik Tuo, Batang Sangir, Lindung Jaya, dan Mekar Jaya melibatkan diri dalam kegiatan ini. Keterlibatan masyarakat bukan hanya sekedar aktivitas bersih-bersih tetapi juga sebagai pengingat akan nilai-nilai yang diwariskan oleh leluhur. Proses ini membantu memperkuat persatuan dan gotong royong antar-warga.
Pelaksanaan ritual ini juga diharapkan dapat memberi pesan kepada generasi muda tentang pentingnya menghargai tradisi. Kegiatan yang dipadukan dengan kesadaran lingkungan membuat masyarakat lebih mendalami makna dari ritual tersebut dan bagaimana cara menjaga kelestariannya di masa depan.
Kontribusi Kegiatan Bersih-Bersih Terhadap Lingkungan dan Pariwisata
Kegiatan bersih-bersih di Gunung Kerinci tidak hanya untuk menjaga kebersihan jalur pendakian, tetapi juga berkontribusi positif terhadap sektor pariwisata. Dengan lingkungan yang bersih dan terjaga, pengunjung lebih nyaman dan aman saat melakukan pendakian. Hal ini juga menciptakan citra baik bagi destinasi wisata tersebut.
Partisipasi relawan dari pelaku wisata dan kelompok lain adalah langkah strategis untuk mempromosikan kegiatan yang berfokus pada kelestarian alam. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa aspek lingkungan perlu menjadi perhatian utama agar Gunung Kerinci dapat terus menjadi salah satu tujuan wisata yang menarik.
Selain itu, kegiatan ini memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat aktif dalam pengelolaan sumber daya alam. Melalui aksi nyata ini, kesadaran bersama tentang tanggung jawab terhadap lingkungan semakin meningkat, sehingga diharapkan dampaknya bisa dirasakan dalam jangka panjang.
Rencana Kegiatan dan Manfaat bagi Komunitas
Ritual pembersihan yang direncanakan pada 22 Januari 2026 merupakan bagian dari upaya kolektif untuk menjaga Gunung Kerinci. Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 23 hingga 25 Januari tersebut menjadi ajang bagi masyarakat untuk bersatu dalam tujuan bersama. Keberhasilan acara ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain.
Tidak hanya manfaat lingkungan, tetapi kegiatan ini juga membawa keuntungan sosial. Keterlibatan berbagai unsur masyarakat menumbuhkan semangat kebersamaan dan solidaritas yang kuat. Hal ini penting dalam menjalin hubungan yang harmonis antara antar masyarakat di lingkungan sekitar gunung.
Dalam konteks yang lebih luas, kegiatan ini mencerminkan kesadaran akan pentingnya status Gunung Kerinci sebagai bagian dari warisan budaya dan lingkungan hidup. Upaya menjaga dan melestarikan gunung ini bukan hanya tanggung jawab masyarakat lokal tetapi juga tanggung jawab bersama yang sepatutnya diperhatikan oleh semua.







