Di tengah tantangan yang dihadapi akibat bencana alam, langkah cepat dan terkoordinasi sangat diperlukan untuk membantu masyarakat yang terdampak. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Republik Indonesia, Maruarar Sirait, memberikan apresiasi terhadap upaya Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, dalam mempercepat pembangunan hunian tetap bagi korban banjir dan longsor.
“Saya senang sekali, karena Gubernur bisa mengoordinasikan dengan baik,” ungkap Maruarar. Ia menekankan pentingnya pengawasan agar pembangunan dapat rampung sesuai dengan target yang telah ditentukan.
Dalam diskusi tersebut, Bobby Nasution menjelaskan sejumlah langkah yang diambil untuk meningkatkan kecepatan proses. Di antaranya adalah pendataan dan verifikasi rumah-rumah yang terkena dampak, mulai dari yang rusak ringan hingga hilang.
Bobby menjabarkan bahwa total terdapat sekitar 30.875 unit rumah yang rusak, dan data ini telah dikumpulkan secara rinci dengan format “by name by address”. Melalui pertemuan daring dengan menteri-menteri terkait, Gubernur berharap bahwa pada akhir tahun 2025 verifikasi pendataan akan selesai dilakukan.
Saat ini, tahap verifikasi sedang berlangsung dengan target penyelesaian yang jelas bagi masyarakat yang terdampak bencana.
Penguatan Kolaborasi dalam Pembangunan Hunian Tetap
Bobby Nasution mengungkapkan komitmennya untuk mempercepat penyediaan lahan bagi pembangunan hunian tetap, salah satunya adalah 227 unit yang akan dibangun di Kebun Karet Hapesong yang merupakan milik PT Perkebunan Nusantara IV. Langkah ini bertujuan untuk memastikan akses yang lebih baik bagi para pengungsi.
Pembangunan ini juga melibatkan kolaborasi erat dengan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman serta Yayasan Buddha Tzu Chi, menunjukkan upaya terpadu dalam menghadapi situasi darurat ini. “Pemerintah daerah juga berperan aktif dalam menyiapkan lahan yang diperlukan,” tambah Bobby.
Pada 21 Desember, Menteri Maruarar dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian melakukan peletakan batu pertama untuk proyek pembangunan hunian tetap yang diperuntukkan bagi korban banjir di tiga kabupaten/kota di Sumut. Ini menjadi simbol harapan bagi banyak masyarakat yang kehilangan tempat tinggal mereka.
Gubernur menargetkan pembangunan sebanyak 200 hunian tetap di Sibolga, 118 hunian di Tapanuli Tengah, 103 hunian di Tapanuli Utara, dan 227 di Tapanuli Selatan. Semua lokasi ini telah ditentukan secara strategis untuk mempermudah akses bagi pengungsi.
Melalui upaya kolaboratif tersebut, Bobby menekankan pentingnya dukungan dari semua pihak, termasuk pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk memastikan bahwa tanah yang disediakan sesuai dengan kebutuhan pembangunan.
Harapan dalam Proses Pembangunan Pasca Bencana Alam
Masyarakat menyambut baik langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah untuk membantu mereka kembali mendapatkan tempat tinggal. Proses pembangunan yang cepat dan terencana diharapkan dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi mereka yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Ketersediaan hunian tetap juga menjadi harapan baru bagi para korban bencana yang kini harus memulai kehidupan dari nol. “Proyek ini bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga pemulihan spiritual bagi masyarakat,” ungkap Bobby.
Menteri Maruarar menegaskan tanggung jawab semua pihak dalam mendukung proses ini. Ia berharap bahwa pembangunan dan pemulihan dapat dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya untuk sesaat tetapi untuk masa depan yang lebih baik.
Informasi yang transparan mengenai semua langkah yang diambil dalam pembangunan hunian tetap juga menjadi penting. Masyarakat perlu mengetahui setiap tahap agar mereka dapat terlibat dan berpartisipasi aktif dalam proses tersebut.
Dengan pendekatan yang inklusif, diharapkan semua pihak dapat bersatu dalam upaya memperbaiki kondisi pascabanjir ini. Keberhasilan proyek ini akan menjadi tolak ukur bagi keberhasilan kolaborasi yang efektif antara pemerintah dan masyarakat.
Membangun Ketahanan Masyarakat Melalui Infrastruktur yang Baik
Pembangunan hunian tetap harus dilihat sebagai bagian dari ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat. Ketika masyarakat memiliki tempat tinggal yang layak, mereka akan lebih siap untuk menghadapi bencana yang mungkin terjadi di masa depan.
Selain itu, hunian tetap yang dibangun harus memiliki kualitas yang baik, tahan terhadap berbagai jenis bencana. Ini penting untuk memastikan bahwa tidak ada lagi masyarakat yang perlu menderita akibat kerusakan akibat bencana alam.
Sebagai langkah konkret, Gubernur Bobby juga menyatakan akan melibatkan masyarakat dalam proses pembangunan, sehingga mereka merasa memiliki bagian dalam proyek ini. Partisipasi aktif komunitas dapat menciptakan rasa kepemilikan terhadap lingkungan tempat tinggal mereka.
Pemerintah diharapkan dapat memberikan pelatihan dan sumber daya untuk membantu masyarakat belajar bagaimana membangun rumah yang tahan bencana. Hal ini akan menambah nilai manfaat dari proyek pembangunan hunian tetap, memperkuat ketahanan masyarakat secara keseluruhan.
Dengan kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat, harapannya, setiap langkah dalam pembangunan hunian tetap ini bukan hanya sekadar pemenuhan kebutuhan tempat tinggal, tetapi juga menciptakan komunitas yang lebih solid dan resilien.







