Yogyakarta tengah dihadapkan pada masalah serius terkait dengan maraknya kasus keracunan yang dialami oleh siswa sekolah. Kasus ini semakin mencuat seiring dengan adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan oleh pemerintah daerah, yang dimaksudkan untuk meningkatkan gizi masyarakat.
Seniman dan budayawan Butet Kertaredjasa menyampaikan keresahannya mengenai situasi tersebut kepada Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Hal ini terjadi dalam acara Forum Sambung Rasa Kebangsaan yang diadakan di Gedung Sasono Hinggil Dwi Abad, Keraton Yogyakarta.
Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk mantan Menko Polkam dan sejumlah pejabat lainnya. Butet menyampaikan bahwa kasus keracunan di kalangan siswa bukanlah masalah sepele dan harus segera ditangani dengan serius.
Fenomena Keracunan Makan Bergizi Gratis dan Dampaknya di Yogyakarta
Butet menyoroti fakta bahwa kasus keracunan makanan secara massal ini tidak pernah terjadi sebelum program MBG diluncurkan. “Hari ini kita menyaksikan banyak orang keracunan karena MBG, dan situasi ini seolah dipandang sebagai hal yang biasa,” ujarnya dengan nada prihatin.
Ia juga menekankan betapa pentingnya untuk tidak menormalisasi situasi ini, karena setiap kasus keracunan seharusnya dianggap serius. Butet mengungkapkan harapannya agar masyarakat turut menggugat efektivitas program yang dicanangkan pemerintah.
“Satu kasus keracunan saja sudah terlalu banyak, tidak boleh dianggap wajar,” katanya. Dengan tegas, ia meminta agar semua pihak mulai mengkritisi apa yang terjadi dan mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.
Etika dan Tata Krama yang Memudar di Tengah Masyarakat
Keprihatinan Butet tidak hanya berhenti pada masalah keracunan. Ia juga menyoroti hilangnya etika dan tata krama dalam masyarakat. Ia mencontohkan sebuah pernyataan kontroversial dari seorang mantan pejabat negara yang menyatakan bahwa ia ‘harus menjilat’ untuk bisa mendapatkan posisi tertentu.
Hal ini kemudian mengarah kepada kritik Butet terhadap janji-janji penguasa yang tidak ditepati. “Pemimpin boleh berjanji, tapi boleh juga melanggar,” ungkapnya. Butet menggambarkan situasi ini dengan merujuk kepada konsep pemimpin sebagai teladan yang seharusnya dijadikan panutan oleh masyarakat.
Dengan mengutip pesan dari KH. Ahmad Dahlan, Butet menyerukan masyarakat untuk membiasakan diri mengkritisi kebijakan yang diambil oleh pemimpin. “Kita harus kritis terhadap apa yang tampak sebagai kebiasaan,” tegasnya.
Data Keracunan Makanan di DIY dan Langkah-Langkah yang Ditempuh
Di Yogyakarta, memang telah terjadi beberapa kasus keracunan yang disebabkan oleh MBG. Salah satu kejadian terbesar melibatkan siswa dari SMAN 1 Yogyakarta dan SMA Muhammadiyah 7, di mana total korban mencapai 491 orang.
Kasus terbaru yang dilaporkan pada 24 Oktober lalu melibatkan sekitar 215 siswa dari tiga sekolah di Kabupaten Sleman. Kejadian ini menunjukkan bahwa masalah keracunan tidak hanya bersifat lokal, tetapi menjadi isu yang lebih luas di dalam masyarakat.
Selain itu, beberapa guru dari SMPN 2 Mlati juga dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan yang sama. Situasi ini menunjukkan bahwa bukan hanya siswa, tetapi juga tenaga pengajar yang berisiko.
Tanggapan dan Evaluasi dari Pihak Berwenang Terkait Kasus Keracunan
Sultan Hamengku Buwono X, dalam kapasitasnya sebagai Gubernur DIY, menyampaikan bahwa badan yang bertanggung jawab perlu melakukan evaluasi lebih mendalam terkait program MBG. Beliau merekomendasikan agar porsi produksi untuk program ini perlu dikurangi demi menjaga kualitas pangan.
Dalam pandangannya, pengurangan porsi ini seharusnya dilakukan bukan hanya untuk mencegah keracunan tetapi juga untuk memastikan bahwa makanan yang disajikan tetap segar dan sehat. “Masak dalam porsi yang lebih kecil di beberapa dapur akan lebih aman,” katanya.
Sultan juga mengingatkan tentang pentingnya keterampilan dalam memasak di kalangan mereka yang bertanggung jawab atas penyajian makanan. “Banyak masalah keracunan berasal dari pola memasak yang salah,” ujarnya menegaskan pentingnya pemahaman dasar terhadap keamanan makanan.
Dengan demikian, ini menjadi saat yang krusial bagi masyarakat untuk berpikir kritis dan meningkatkan kesadaran akan etika, kualitas pangan, dan tanggung jawab sosial. Seperti yang diungkapkan Butet, kita perlu membiasakan hal yang benar dan kehilangan kebiasaan yang salah.







