Dalam sebuah sidang mendalam di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Haris Abdi Sembiring, yang menjabat sebagai VP Crude and Gas Operation PT Pertamina International Shipping, memberikan keterangannya terkait dugaan korupsi dalam pengelolaan minyak mentah. Keterlibatan Haris dalam kasus ini mengungkapkan kompleksitas yang ada dalam proses pengadaan armada laut di perusahaan minyak nasional.
Dalam kesempatan itu, Haris menjelaskan penentuan penggunaan kapal Suezmax bernama Jenggala Nasim yang dimiliki oleh PT Jenggala Maritim Nusantara. Kapal ini dipilih sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan armada domestik yang semakin meningkat di Indonesia.
Pernyataan Haris disampaikan ketika jaksa menelusuri lebih jauh tentang proses pengadaan kapal tersebut. Jaksa menginginkan penjelasan mengenai jangka waktu dan pemanfaatan kapal untuk transportasi baik domestik maupun internasional.
Proses Pengadaan Kapal Jenggala Nasim yang Kompleks
Dalam sidang tersebut, perhatian jaksa tertuju pada surat nomor 230 yang berisi rincian pengadaan. Terdapat penjelasan mengenai tipe sewa yang digunakan, yaitu time charter, dengan kontrak utama selama tiga tahun ditambah dua opsi perpanjangan.
Haris kemudian menjelaskan bahwa dokumen tersebut mencantumkan kebutuhan pengangkutan pada rentang waktu tertentu. Ini memungkinkan perusahaan untuk merencanakan pengadaan dengan lebih baik sesuai dengan kebutuhan operasional yang ada.
Hal ini dipertegas oleh jaksa, yang mempertanyakan dasar dari penentuan waktu kebutuhan tersebut. Jaksa ingin memastikan bahwa keputusan yang diambil berdasarkan kebutuhan aktual dan tidak hanya bersifat estimasi.
Merespons pertanyaan tersebut, Haris menjabarkan bahwa penggunaan istilah Week 1 dan Week 4 adalah untuk memberikan gambaran realistis atas kebutuhan kapal. Ini mencerminkan penerapan sistem simulasi dan logistik yang harus disesuaikan dengan dinamika pasar yang ada.
Dalam permohonan penjelasannya, Haris mencatat bahwa keputusan untuk mencantumkan rentang waktu tersebut tidak bersifat sembarangan. Ini merupakan hasil analisis situasi dan prediksi yang matang mengenai kebutuhan armada bagi pengangkutan domestik.
Pemanfaatan Kapal untuk Kebutuhan Domestik dan Internasional
Haris menyatakan bahwa penggunaan Jenggala Nasim dirancang agar dapat beradaptasi dengan kebutuhan pengangkutan domestik. Hal ini sejalan dengan upaya Pertamina dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya energi.
Pentingnya kapal ini tidak hanya untuk pengangkutan domestik, tetapi juga memiliki potensi untuk melayani rute internasional. Pemanfaatan armada yang efisien bisa membawa dampak besar terhadap ketahanan energi nasional.
Jaksa, dalam interogasi lanjutan, mempertanyakan tentang bagaimana waktu sewa dan operasi kapal dapat dioptimalkan. Satu lagi aspek penting adalah bagaimana Pertamina berupaya untuk menjaga kepatuhan terhadap regulasi yang ada dalam pengadaan barang dan jasa.
Haris menekankan bahwa perencanaan dan pengoperasian kapal harus selalu mempertimbangkan kebijakan tatakelola yang baik. Upaya ini tidak hanya demi keuntungan perusahaan, tetapi juga untuk kepentingan nasional yang lebih luas.
Dengan merespons pertanyaan tersebut, Haris menunjukkan komitmennya untuk transparansi dan akuntabilitas dalam setiap langkah yang diambil oleh PT Pertamina International Shipping. ini menciptakan kesan positif bahwa perusahaan selalu berupaya mematuhi aturan dan regulasi yang berlaku.
Menunjukkan Kesungguhan dalam Pengelolaan Energi Nasional
Perkara ini membuka kembali diskusi tentang pentingnya pengelolaan yang baik di sektor minyak dan gas. Di tengah tantangan yang ada, pertanggungjawaban dalam proses pengadaan harus diutamakan demi menjaga kepercayaan publik.
Banyak pihak berharap bahwa kasus ini dapat menjadi momentum untuk perbaikan di sektor pengelolaan energi. Tidak dapat dipungkiri bahwa transparansi adalah kunci dalam memelihara integritas perusahaan milik negara.
Sementara itu, Haris dengan tegas menggarisbawahi pentingnya pengawalan dan evaluasi yang berkala saat menjalankan program pengadaan. Agar tujuan yang ingin dicapai sejalan dengan harapan seluruh stakeholders.
Keberhasilan dalam pengadaan armada tidak hanya menceritakan tentang kapasitas penyewaan, tetapi juga tentang bagaimana pengelolaan sumber daya tersebut dapat berdampak pada masyarakat secara keseluruhan. Ini merupakan tanggung jawab berat yang harus diemban oleh setiap pihak di sektor ini.
Apabila semua aspek telah dipertimbangkan dengan matang, Haris optimis bahwa ke depan PT Pertamina International Shipping dapat beroperasi dengan lebih efisien dan memenuhi ekspektasi publik. Hal ini tentunya akan meningkatkan kualitas pengelolaan sumber energi nasional menuju arah yang lebih baik.







