Warga Kota Bandung, Jawa Barat saat ini diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan mereka terhadap kemungkinan peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang diperkirakan akan mulai terjadi pada Januari 2026. Hal ini menjadi perhatian karena meskipun terdapat penurunan kasus yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, siklus epidemi DBD menunjukkan potensi akan terjadinya kenaikan kasus dalam waktu dekat.
Menurut Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, dalam tiga tahun terakhir tidak tercatat adanya korban jiwa akibat DBD, namun pola epidemi menunjukkan bahwa masyarakat harus tetap waspada. DBD memiliki siklus yang dapat dipetakan berdasarkan fluktuasi kasus di tahun-tahun sebelumnya, dan saat ini semua pihak diingatkan untuk tidak lengah.
Farhan menjelaskan bahwa jika dalam tiga tahun berturut-turut kasus menurun, biasanya akan terjadi lonjakan pada tiga tahun berikutnya. Ia menyebutkan bahwa siklus kenaikan kemungkinan akan dimulai pada Januari ini, sehingga sangat penting bagi masyarakat untuk selalu memperhatikan dan memahami gejala awal penyakit ini.
Pentingnya Kewaspadaan Dini Terhadap DBD di Bandung
Kewaspadaan dini merupakan langkah awal yang penting dalam mencegah lonjakan kasus DBD. Farhan menegaskan bahwa keberhasilan yang telah dicapai dalam menekan kasus DBD selama beberapa tahun terakhir tidak boleh membuat warga merasa aman. Upaya pencegahan harus terus dilakukan agar tidak kembali terulang kasus yang parah.
Ia menekankan pentingnya deteksi dini terhadap gejala penyakit ini, seperti demam tinggi yang berlangsung lebih dari 24 jam. Jika demam tidak kunjung reda meski sudah diberikan obat penurun panas, masyarakat diminta untuk segera mengunjungi puskesmas terdekat.
Gejala lain yang memperingatkan adalah sakit kepala yang hebat, nyeri sendi, bintik merah di kulit, serta gejala muntah atau mimisan. Indikator ini penting karena bisa menjadi tanda adanya pendarahan dalam tubuh yang membutuhkan penanganan segera.
Tindakan Sederhana untuk Mencegah Penyebaran DBD
Farhan menjelaskan bahwa langkah-langkah sederhana dapat diambil oleh masyarakat untuk mencegah penularan DBD. Misalnya, menjaga kebersihan lingkungan, menghindari genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Dengan langkah-langkah sederhana ini, risiko penularan dapat diminimalisir.
Pemeriksaan tes NS1 untuk deteksi dini DBD juga disebutkan tersedia secara gratis di puskesmas. Hal ini merupakan langkah penting agar jika ditemukan kasus positif, pasien dapat segera mendapatkan perawatan yang diperlukan.
Apabila seseorang terkonfirmasi positif DBD, dokter akan melakukan rujukan ke rumah sakit jika diperlukan. Namun, jika tidak memerlukan rawat inap, pasien tetap harus melakukan pemantauan di rumah secara ketat.
Risiko DBD di Setiap Kecamatan di Kota Bandung
Farhan mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil pemantauan, tidak ada kecamatan di Kota Bandung yang benar-benar bebas dari risiko DBD. Hal ini menandakan bahwa penyebaran penyakit ini dapat terjadi di seluruh wilayah kota, sehingga seluruh masyarakat harus waspada.
Langkah-langkah preventif sangat dibutuhkan untuk memastikan kesehatan masyarakat tetap terjaga. Masyarakat diajak untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan Siskamling atau sistem keamanan lingkungan untuk meningkatkan kesadaran terkait bencana kesehatan ini.
Keberhasilan dalam penanggulangan DBD tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga kolaborasi dan kesadaran dari semua elemen masyarakat. Komitmen bersama sangat diperlukan untuk menurunkan angka DBD di masa depan.







