loading…
Dekan FK Unair Prof Dr Eighty Mardiyan Kurniawati (kanan) dan Prof Yeong Yeh Lee. Foto/Masdarul Khoiri.
Acara Adjunct Professor Inauguration 2026 ini diselenggarakan Senin, 19 Januari 2026 di Aula Utama FK Unair. Dia mengungkapkan hasil risetnya mengenai bahaya mikroplastik.
Baca juga: Angkat Isu Performing Rights, Anang Hermansyah Lulus Ujian Tesis di Unair dengan Nilai A
Prof. Yeong Yeh Lee menyampaikan orasi ilmiah berjudul: “Changing Landscape of Gut Health in the South-east Asian Region” (Perubahan Lanskap Kesehatan Saluran Cerna di Kawasan Asia Tenggara)
Prof. Yeong Yeh Lee adalah Professor of Medicine and Consultant of Gastroenterology, Hepatology and Internal Medicine at Universiti Sains Malaysia, yang dikenal luas atas kontribusinya dalam riset terutama mengenai gastroenterology dan hepatology.
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) semakin menunjukkan komitmennya untuk memperluas jaringan akademik internasional. Terbaru, mereka mengangkat Prof. Yeong Yeh Lee sebagai Adjunct Professor melalui sebuah acara yang berlangsung khidmat. Penunjukan ini diharapkan dapat membawa pengaruh positif bagi perkembangan riset dan pendidikan di bidang kesehatan.
Pada acara yang diadakan di Aula Utama FK Unair ini, Prof. Yeong Yeh Lee menyampaikan berbagai penelitian terkait mikroplastik. Pengetahuan ini sangat penting, mengingat bahaya yang ditimbulkan oleh mikroplastik terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Dengan mengangkat isu ini, FK Unair semakin mempertegas posisinya di kancah internasional.
Selama orasi ilmiah yang disampaikan, Prof. Yeong Yeh Lee membahas tentang perubahan dalam kesehatan saluran cerna. Fokus pembahasan tersebut mencakup bagaimana kondisi lingkungan dan kebiasaan masyarakat berkontribusi terhadap kesehatan. Penelitian yang dipaparkan memberikan gambaran jelas mengenai tantangan yang dihadapi negara-negara di kawasan Asia Tenggara.
Peran Penting Mikroplastik dalam Isu Kesehatan Global
Mikroplastik telah menjadi salah satu isu kesehatan yang mendunia. Banyak penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik dapat berbahaya bagi kesehatan manusia, terutama dalam saluran cerna. Hal ini menjadi fokus perhatian para peneliti dan lembaga kesehatan dunia.
Dalam presentasinya, Prof. Yeong Yeh Lee menjelaskan bagaimana mikroplastik dapat masuk ke dalam tubuh manusia. Melalui makanan dan minuman, mikroplastik dapat terakumulasi dalam sistem pencernaan. Dampak yang ditimbulkan sangat beragam, mulai dari efek jangka pendek hingga jangka panjang.
Isu ini bukan hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga mempengaruhi kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Penelitian yang dilakukan di berbagai negara menunjukkan adanya tren peningkatan prevalensi penyakit terkait dengan paparan mikroplastik. Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk lebih sadar akan risiko ini.
Relevansi Penelitian dalam Konteks Asia Tenggara
Kawasan Asia Tenggara merupakan salah satu yang paling terdampak oleh pencemaran mikroplastik. Dengan kepadatan populasi yang tinggi dan pola konsumsi yang berubah, tantangan untuk menjaga kesehatan saluran cerna menjadi semakin kompleks. Penelitian yang dilakukan oleh Prof. Yeong Yeh Lee menawarkan wawasan mendalam tentang fenomena ini.
Pada orasinya, beliau menguraikan tindakan yang perlu diambil oleh negara-negara di kawasan ini. Upaya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat sangat diperlukan untuk mengatasi isu mikroplastik secara efektif. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pendorong bagi tindakan nyata di berbagai tingkatan.
Fokus pada kesehatan saluran cerna juga membuka dialog tentang pola makan yang sehat. Dalam konteks Asia Tenggara, di mana fenomena “fast food” semakin mendominasi, penting untuk mengingat kembali nilai-nilai gizi dan pola makan yang sehat. Kesadaran akan hal ini perlu ditingkatkan guna menciptakan generasi yang lebih sehat.
Dampak Penunjukan sebagai Adjunct Professor
Penunjukan Prof. Yeong Yeh Lee sebagai Adjunct Professor di FK Unair menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan kolaborasi internasional. Ini merupakan langkah positif bagi kedua belah pihak, baik FK Unair maupun Universiti Sains Malaysia. Melalui kerja sama ini, diharapkan banyak penelitian bersama yang bermanfaat bagi masyarakat.
Kerjasama internasional semacam ini juga dapat menguatkan jejaring akademik yang ada. Adanya pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara akademisi di berbagai negara menjadi kunci untuk menciptakan riset yang berkualitas. Ini adalah langkah yang perlu didorong untuk menciptakan inovasi di bidang kesehatan.
Dengan pengangkatan ini, FK Unair diharapkan dapat menarik perhatian lebih dari lembaga penelitian lainnya. Dalam jangka panjang, keberhasilan ini bisa berkontribusi pada reputasi akademik FK Unair di tingkat global. Semakin banyak kolaborasi yang terjalin, semakin besar potensi inovasi dan pengetahuan baru yang dihasilkan.







