Hujan deras yang melanda wilayah Kota dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, sejak akhir Desember baru-baru ini, telah mengakibatkan banjir dan longsor di berbagai titik. Peristiwa bencana hidrometeorologi ini menciptakan tantangan besar bagi masyarakat setempat.
Dalam beberapa hari terakhir, dampak dari hujan intensif ini terasa di berbagai desa. Petugas penanggulangan bencana setempat bekerja tanpa lelah untuk merespons situasi darurat ini.
Keadaan Darurat di Wilayah Terkena Banjir dan Longsor
Di Kampung Karikil, Desa Bojongsari, Kabupaten Sukabumi, banjir bandang merusak jembatan utama, sehingga satu kampung terisolasi. Petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melaporkan bahwa hampir seluruh desa di Kecamatan Nyalindung terkena dampak.
Jembatan yang hancur tersebut membuat akses keluar-masuk kampung menjadi terputus. Situasi ini menciptakan kesulitan bagi warga yang membutuhkan bantuan dan akses ke layanan penting.
Berita terbaru dari petugas penanggulangan bencana menyebutkan bahwa semua warga di Kampung Karikil dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Keadaan mendesak ini membuat upaya koordinasi antara pemerintah lokal dan masyarakat menjadi sangat penting.
Evakuasi ini diadakan untuk melindungi warga dari ancaman lebih lanjut, termasuk longsoran tanah yang terjadi akibat hujan deras. Pelayanan kesehatan dan makanan darurat disiapkan untuk mereka yang terkena dampak.
Kondisi Rumah Warga dan Infrastruktur Saat Banjir
Di Kota Sukabumi, sebanyak 13 rumah dilaporkan mengalami kerusakan akibat hujan yang tak kunjung reda. Sebanyak 13 unit rumah mengalami kerusakan mulai dari atap ambruk hingga banjir limpasan yang membuat lingkungan tidak aman.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mengonfirmasi bahwa kejadian ini tersebar di beberapa lokasi, termasuk Kecamatan Lembursitu dan Cikole. Warga di beberapa titik terpaksa dievakuasi karena genangan air yang mengancam keselamatan.
Akses jalan di sekitar lokasi bencana juga terganggu, yang memperparah situasi. Warga yang ingin mencari perlindungan dan bantuan menjadi kesulitan untuk bergerak.
Pemerintah setempat secara aktif melakukan pendataan dan intervensi untuk memulihkan keadaan. Penanganan darurat harus dilakukan secepatnya untuk meminimalisir dampak lebih lanjut.
Akses Jalan Tertutup Akibat Longsor
Pada tanggal 28 Desember, akses Jalan Provinsi Sukabumi-Sagaranten tersekat oleh material longsor setelah hujan deras. Petugas berupaya membuka akses jalan secara terbatas, namun arus lalu lintas tetap terhambat.
Proses pembersihan jalan dilakukan secara manual oleh petugas gabungan, namun kondisi masih berbahaya karena hujan yang terus turun. Itu membuat upaya pemulihan menjadi lebih sulit.
Longsoran material di tebing jalan menyebabkan kemacetan, dan masyarakat pun merasakan dampak langsung dari tertutupnya jalan-jalan utama. Distribusi barang dan kegiatan ekonomi juga terganggu secara signifikan.
Warga mengharapkan agar pemerintah segera menurunkan alat berat untuk mempercepat pemulihan akses jalan. Jalan ini menjadi jalur vital bagi aktivitas sehari-hari, termasuk pengiriman logistik.
Laporan Situasi Banjir di Tiga Desa Lainnya
Banjir juga melanda tiga desa di Kecamatan Cireunghas akibat luapan Sungai Cimandiri dan Cikupa. Petugas lapangan melaporkan bahwa banyak rumah warga yang terendam air dengan ketinggian mencapai satu meter.
Data awal menunjukkan bahwa lebih dari 30 kepala keluarga terpaksa mengungsi. Mereka membutuhkan perawatan dan perhatian segera, termasuk makanan dan tempat tinggal yang aman.
Banjir yang menggenangi rumah, masjid, dan sekolah menunjukkan betapa seriusnya situasi ini. Di antara desa yang terdampak, upaya penyedotan air terus dilakukan untuk mengembalikan keadaan normal.
Pemerintah mengupayakan langkah-langkah untuk mengevakuasi lebih banyak warga yang berpotensi terjebak dalam area berbahaya. Keberadaan tim tanggap darurat sangat dibutuhkan saat ini.
Kerugian Ternak Akibat Banjir
Selain kerugian material, bencana ini juga menyebabkan hilangnya ternak milik warga. Di beberapa daerah, domba dan kambing dilaporkan hanyut saat banjir bandang melanda. Ini menjadi masalah tambahan bagi komunitas yang banyak bergantung pada peternakan untuk penghidupan.
Masyarakat setempat merasa sangat prihatin dengan hilangnya ternak. Banjir yang terjadi merupakan peristiwa yang tidak biasa, dan banyak warga mengingat situasi serupa yang terakhir kali terjadi puluhan tahun yang lalu.
Pemerintah diharapkan memberikan dukungan lebih bagi peternak yang mengalami kerugian akibat bencana ini, termasuk menjanjikan bantuan untuk memulihkan populasi ternak yang hilang. Hal ini sangat penting untuk memastikan keberlanjutan kehidupan mereka.
Warga menyatakan harapan agar kondisi cuaca segera membaik agar mereka dapat mulai membangun kembali kehidupan sehari-hari mereka.







