Masalah kusta di Indonesia memerlukan perhatian serius. Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, mengusulkan pembentukan Kusta Warrior Club sebagai saluran untuk memperjuangkan penanggulangan penyakit ini.
Inisiatif ini bertujuan untuk melibatkan penyintas kusta sebagai penggerak utama dalam mendidik masyarakat. Menurut Budi, testimoni dari mereka yang pernah mengalami kusta akan jauh lebih berpengaruh dibandingkan hanya informasi dari pihak resmi.
Melalui forum yang diusulkan, diharapkan bahwa penyintas akan diberdayakan dan dapat berbagi pengalaman mereka kepada publik. Dengan cara ini, stigma sosial terhadap kusta dapat berkurang secara signifikan.
Pentingnya Membentuk Komunitas Penyintas Kusta di Indonesia
Budi menggambarkan rencananya untuk membangun Kusta Warrior Club di 514 kota sebagai langkah strategis. Komunitas ini akan menjadi platform bagi OYPMK (Orang yang Pernah Mengalami Kusta) untuk bersatu dan saling mendukung.
Pelatihan berbicara di depan umum akan menjadi bagian penting dari program ini. Hal ini akan mempersiapkan mereka untuk berbagi pengalaman dan informasi tentang kusta kepada masyarakat luas.
Kegiatan ini tidak hanya akan membantu penyintas merasakan dukungan, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penyakit ini. Dengan pelibatan aktif OYPMK, informasi yang kurang tepat dapat diluruskan.
Melawan Stigma: Pendekatan Edukasi untuk Kusta
Stigma terhadap kusta masih mengakar di banyak komunitas. Budi menjelaskan bahwa kurangnya informasi akurat membuat masyarakat masih menganggap kusta sebagai kutukan.
Kusta sebenarnya adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri dan sulit menular. Dengan pengetahuan yang benar, diharapkan masyarakat akan memahami bahwa kusta dapat disembuhkan.
Oleh karena itu, pengedukasian masyarakat menjadi bagian integral dari upaya melawan stigma ini. Masyarakat harus tahu bahwa kusta bukanlah akhir dari kehidupan.
Strategi Pengumpulan dan Pelatihan Penyintas Kusta
Budi mencanangkan agar Kusta Warrior Club dapat berdiri mulai Februari 2026. Langkah ini merupakan bentuk konkret dari komitmen pemerintah dalam menangani masalah kusta di Indonesia.
Penyintas kusta akan direkrut dan dilatih untuk berbicara di depan umum. Hal ini diharapkan tidak hanya membantu mereka secara individu tetapi juga membentuk pandangan masyarakat tentang kusta.
Dari perspektif kesehatan publik, melibatkan penyintas sebagai edukator dapat memfasilitasi dialog yang lebih terbuka dan jujur tentang kusta. Ini merupakan strategi yang diharapkan dapat mengubah cara pandang masyarakat terhadap penyakit ini.







