Di tengah serba-serbi kehidupan kota Jakarta, terdapat kisah inspiratif seorang pedagang kopi yang tak kenal lelah. Zulhari, seorang perantau asal Madura, menantang gelap malam bergelumang cita-cita dan harapan, mengumpulkan rezeki dari setiap langkahnya.
Setiap pagi, di bawah suara lantunan azan subuh, ia mengayuh sepedanya dengan penuh semangat. Menyusuri jalanan ibu kota dengan membawa serenceng minuman dan setermos air panas, Zulhari berusaha memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya di kampung halaman.
Tantangan tak hanya datang dari cuaca atau jalan yang dilewati, tetapi juga dari kompetisi yang ketat dengan pedagang kopi keliling modern. Di tengah arus perubahan zaman, Zulhari harus berjuang untuk mendapatkan pelanggan di tengah dominasi kopi modern yang lebih menarik perhatian anak muda.
Persaingan di Dunia Kopi Keliling: Kondisi yang Menantang
Setiap hari, Zulhari menempuh minimal lima kilometer demi mencari pelanggan. Dia memulai perjalanannya dari salah satu kawasan terkenal di Jakarta menuju rumah sakit yang tak jauh dari sana. Dengan setiap pedal yang ditekan, harapannya untuk membahagiakan istri dan anak-anaknya semakin membara.
Namun, di tengah perjuangannya, ia terpaksa bersaing dengan pedagang kopi keliling yang menggunakan sepeda listrik. Bukan hanya kecepatan, tetapi daya tarik dari penampilan dan inovasi yang menjadi senjata mereka. Situasi ini menambah kesulitan Zulhari dalam mencari mata pencaharian.
Persaingan semakin ketat ketika banyak orang mulai menyukai kopi modern. Meskipun Zulhari menawarkan cita rasa dan pengalaman tradisional, daya tarik visual dari kopi kekinian sering kali lebih mengundang perhatian. Inilah tantangan nyata yang harus dihadapi oleh pedagang kopi tradisional sepertinya.
Dampak Sosial dan Ekonomi bagi Pedagang Tradisional
Polemik mengenai kehadiran banyak pedagang kopi keliling modern jadi isu sosial yang tidak bisa diabaikan. Banyak orang merasa bahwa jumlah pedagang yang terlalu banyak dapat merusak estetika kota, membuatnya terkesan kumuh. Protes ini kerap dikemukakan oleh pihak-pihak yang peduli dengan penataan ruang kota.
Zulhari mencatat, sering kali lokasi yang sudah dipenuhi pedagang kopi tidak bisa ditambah. Meskipun dia sudah ada sejak lama, kehadiran pedagang modern justru mempersulit posisi mereka yang sudah lebih dulu berjualan. Peraturan yang tak tertulis ini membuat persaingan semakin berat.
Baginya, setiap detik sangat berharga. Jika terlambat memarkirkan sepedanya, ia bisa kehilangan peluang berjualan. Konsekuensi ekonomi sangat nyata bagi Zulhari, karena penghasilan yang tidak menentu membuat stabilitas keluarganya terancam.
Harapan dan Realita: Menjaga Tradisi di Tengah Modernitas
Ketika mempertimbangkan langkah ke depan, Zulhari tidak hanya berdagang; ia juga berjuang untuk melestarikan tradisi. Dalam setiap cangkir kopi yang disajikannya, terdapat cerita dan warisan budaya yang ingin ia bagikan. Dia ingin generasi mendatang memahami nilai kopi tradisional yang memiliki cerita mendalam.
Walaupun banyak dari mereka yang memilih modernitas, Zulhari yakin bahwa nilai-nilai tradisional tetap penting. Pengalaman umur dan cita rasa menjadi hal yang tak terukur yang tidak bisa dibeli dengan uang. Harapan Zulhari adalah untuk menunjukkan kepada pelanggan bahwa kopi tradisional bukan hanya sekadar minuman, tetapi juga bagian dari identitas.
Di tengah perjuangannya, ia juga menciptakan kenyamanan bagi pelanggan. Saat mereka mencicipi kopinya, Zulhari ingin mereka merasakan suasana yang hangat, seolah berada di rumah. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri untuk kembali lagi ke minum kopi di tempatnya.







