Ratusan jagal sapi dari Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian telah menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Kota Surabaya. Demonstrasi ini berlangsung pada hari Senin, dengan tujuan utama menolak rencana pemindahan aktivitas penyembelihan sapi ke RPH Tambak Osowilangun yang dianggap mengancam mata pencaharian mereka.
Aksi tersebut tidak hanya dihadiri oleh jagal, tetapi juga pedagang daging dari Pasar Arimbi. Mereka mengangkat isu bahwa relokasi ini akan merugikan distribusi dan kualitas daging yang beredar di pasar lokal.
Salah satu orator, Kukuh, dalam orasinya menyatakan bahwa RPH Pegirian adalah jantung kehidupan mereka. Menurut Kukuh, rencana pemindahan itu sama artinya dengan mematikan sumber penghidupan bagi banyak keluarganya.
Aksi Unjuk Rasa Jagal dan Pedagang Daging di Surabaya
Para jagal mengangkat isu pentingnya keberadaan RPH Pegirian dalam menyuplai kebutuhan daging di Surabaya dan sekitarnya. Mereka merasa tidak hanya memperjuangkan tempat kerja, tetapi juga hak hidup dan ekonomi mereka.
Sejumlah pedagang dari Pasar Arimbi menuturkan bahwa akses ke RPH Tambak Osowilangun yang jauh yakni sekitar 15 kilometer akan meningkatkan biaya operasional. Hal ini dipastikan akan mempengaruhi harga daging di pasaran.
Abdullah Mansyur, sebagai salah satu perwakilan jagal, menyampaikan tuntutan agar Wali Kota Surabaya membatalkan rencana pemindahan. Dia menekankan bahwa mereka tidak akan ragu untuk mogok kerja jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.
Dampak Relokasi RPH Pegirian untuk Jagal dan Masyarakat
Pemindahan RPH Pegirian ke Tambak Osowilangun dikhawatirkan akan mempengaruhi kestabilan ekonomi daging di daerah tersebut. Para jagal menjelaskan bahwa dengan mogok kerja, pasokan daging di pasar bisa terhenti dan mengganggu kebutuhan masyarakat.
Kondisi ini akan semakin mengkhawatirkan, terutama menjelang hari-hari besar seperti Idulfitri atau musim liburan. Pasokan daging yang berkurang bisa memicu lonjakan harga dan kerugian bagi pedagang.
Wakil Ketua DPRD Surabaya, Arif Fatoni, menyatakan komitmen untuk memberikan ruang dialog bagi para jagal dan Dinas terkait. Mereka ingin mendalami lebih lanjut mengapa pemindahan ini dilakukan dan mencari solusi yang menguntungkan semua pihak.
Tanggapan Pihak Dinas Terkait Rencana Relokasi RPH
Pihak manajemen RPH menjelaskan bahwa relokasi bukan hanya perpindahan lokasi pemotongan, tetapi juga merupakan langkah untuk meningkatkan efisiensi operasional RPH Tambak Osowilangun. Mereka berupaya memastikan bahwa pasokan daging tetap stabil selagi proses transisi berlangsung.
Direktur Utama RPH Surabaya mengklaim bahwa stok daging sapi di kota masih dalam keadaan aman selama masa mogok ini. Namun, masyarakat tetap diingatkan untuk bersiap menghadapi kemungkinan keterbatasan pasokan daging segar.
Manajemen RPH optimis bahwa dengan fasilitas yang lebih modern di lokasi baru, mereka dapat meningkatkan kualitas pemotongan dan distribusi daging di masa depan. Namun, mereka juga menyadari pentingnya mempertimbangkan masukan dari jagal dan pedagang.
Perjuangan Berkelanjutan Para Jagal di Surabaya
Dengan tensi yang semakin meningkat, jagal di RPH Pegirian berkomitmen untuk memperjuangkan hak mereka. Mereka menekankan pentingnya keberadaan rumah potong ini untuk stabilitas ekonomi lokal.
Abdullah dan rekan-rekannya tidak hanya menggantungkan harapan pada aksi unjuk rasa, tetapi juga mengedukasi masyarakat mengenai dampak rencana relokasi. Mereka percaya suara mereka perlu didengar agar tidak ada keputusan sepihak yang diambil.
Pada akhirnya, harapan mereka adalah untuk mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan. Karena keputusan terkait pemindahan RPH tidak hanya berdampak pada jagal, tetapi juga pada seluruh masyarakat Surabaya yang bergantung pada pasokan daging yang stabil dan berkualitas.







