Peringkat paspor Indonesia yang dirilis awal Januari 2026 menunjukkan bahwa dokumen ini menempati posisi yang cukup menggembirakan. Dengan peringkat 59 secara global, paspor Indonesia memiliki mobilitas yang cukup baik, dengan 43 negara di dunia memberikan fasilitas bebas visa bagi pemegangnya.
Selain itu, ada 43 negara lainnya yang menawarkan visa on arrival, sementara lima negara menggunakan skema electronic travel authorization (eTA). Namun, meskipun ada banyak pilihan, 107 negara masih mengharuskan pengajuan visa yang mungkin menambah beban bagi pelancong Indonesia.
Sebelum membahas isu lain yang menarik, penting untuk mengingat bahwa status paspor sering menjadi indikator kekuatan diplomasi dan hubungan internasional suatu negara. Banyak faktor yang mempengaruhi peringkat ini, termasuk perkembangan politik dan ekonomi.
Fasilitas Bebas Visa untuk Warga Negara Indonesia
Kebijakan bebas visa ini tentunya membuka banyak peluang bagi warga negara Indonesia untuk berkelana lebih leluasa. Beberapa negara memberikan masa tinggal yang bervariasi, mulai dari 14 hari hingga 180 hari. Ini jelas sangat membantu dalam merencanakan perjalanan ke luar negeri.
Dalam dunia yang semakin terhubung, memiliki akses yang lebih besar dapat meningkatkan peluang kerja dan pertukaran budaya antara negara. Dengan melepas batasan visa, Indonesia berupaya meningkatkan pariwisata dan menciptakan hubungan baik dengan negara-negara lainnya.
Namun, tantangan tetap ada, mengingat hubungan politik yang dapat mempengaruhi kebijakan visa. Oleh karena itu, pemerintah perlu terus bekerja untuk memperbaiki citra Indonesia di mata dunia agar lebih banyak negara mau membuka akses bagi warganya.
Peran G-Dragon dalam Dunia Mode Internasional
Beranjak dari isu paspor, G-Dragon, seorang ikon mode asal Korea Selatan, kembali mencuri perhatian dengan inovasi dalam dunia perhiasan. Tidak hanya dikenal karena gaya berpakaiannya yang unik, ia kini juga berhasil meluncurkan kalung berbentuk bandana yang dipesan khusus. Desainnya yang menawan menonjolkan permata berkilauan dan mencerminkan gaya khas sang pelantun.
Kalung tersebut diciptakan oleh perusahaan perhiasan terkenal dan menarik perhatian media internasional. Dengan ciri khas yang kuat, G-Dragon menunjukkan bagaimana fashion dapat menjadi sarana untuk mengekspresikan diri sekaligus berinovasi.
Karya-karya G-Dragon juga menjadi pembuktian bahwa dunia mode tidak hanya tentang pakaian, tetapi juga aksesori yang mampu menciptakan identitas. Desain yang ia pilih tidak hanya berfungsi sebagai perhiasan, tetapi juga sebagai pernyataan gaya yang tak terlupakan.
Isu Tenaga Kerja di Industri Mode Korea Selatan
Di balik kemewahan industri mode, terdapat isu yang mencuat mengenai kondisi kerja yang tidak manusiawi bagi para pekerja kreatif. Sejumlah desainer dan mantan karyawan perusahaan ternama yang berurusan dengan merek kacamata dan label kecantikan asal Korea Selatan, mengungkapkan kondisi kerja yang sangat menuntut.
Menurut laporan, banyak dari mereka dipaksa bekerja lebih dari 70 jam per minggu tanpa mendapatkan kompensasi yang layak. Hal ini menimbulkan perhatian mengenai etika dan keberlanjutan di industri mode yang sering kali terlihat glamor.
Budaya kerja yang kaku dan tekanan untuk mencapai target tinggi sering kali membuat para pekerja merasa terjebak. Di tengah keindahan dunia fashion, manusia seharusnya tidak menjadi korban dari eksploitasi sistematis.







