Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyambut baik perubahan perilaku wisatawan yang dianggap positif bagi perkembangan industri pariwisata domestik. Menurut data terkini, tercatat 42,8 persen dari wisatawan nusantara memilih wisata kuliner sebagai motivasi utama untuk berlibur, diikuti oleh kegiatan belanja, eksplorasi kota dan desa, kunjungan ke pantai, serta petualangan di alam terbuka.
Perubahan perilaku ini memberikan gambaran yang menjanjikan bagi sektor pariwisata setelah masa sulit yang dihadapi. Asisten Deputi Strategi dan Komunikasi Pemasaran Kemenpar, Firnandi Gufron, menekankan pentingnya mempertahankan tren positif ini agar pariwisata domestik bisa terus tumbuh dan berkembang.
Selain itu, tren penggunaan media sosial untuk merencanakan liburan semakin meningkat. Laporan terbaru menunjukkan bahwa sembilan dari sepuluh wisatawan mengandalkan platform media sosial sebagai sumber inspirasi awal untuk merencanakan perjalanan mereka.
Pentingnya Media Sosial dalam Perencanaan Liburan Masa Kini
Media sosial telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam merencanakan liburan. Data menunjukkan bahwa TikTok menduduki peringkat tertinggi, dengan 57 persen responden mengaku mengandalkan platform ini.
Instagram menyusul di posisi kedua dengan 34 persen pengguna yang memanfaatkannya untuk mendapatkan inspirasi dan ide. Fenomena ini menunjukkan bahwa konten visual memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk keputusan dan preferensi wisatawan.
Wisatawan semakin aktif mencari dan membagikan pengalaman melalui media sosial, menjadikannya sebagai sumber informasi yang tak terpisahkan. Keberadaan influencer di platform ini juga berperan dalam memotivasi orang untuk menjelajahi berbagai destinasi baru.
Pergeseran Menuju Pariwisata Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan
Kesadaran akan pentingnya pariwisata berkelanjutan juga mulai menguat. Sekitar sepertiga responden mengaku pernah menggunakan fitur pilihan ramah lingkungan saat merencanakan perjalanan mereka.
Motivasi yang mendasari pilihan ini sering kali berasal dari nilai-nilai pribadi dan pencarian kepuasan emosional, bukan hanya sekedar faktor biaya. Wisatawan kini lebih memilih untuk mendukung usaha yang peduli terhadap lingkungan dan komunitas lokal.
Namun, keputusan untuk memilih akomodasi ramah lingkungan tetap dipengaruhi oleh harga. Masyarakat cenderung hanya bersedia membayar kenaikan harga akomodasi ramah lingkungan dalam kisaran 1 hingga 5 persen dibandingkan opsi non-hijau.
Pengaruh Perubahan Ekonomi terhadap Sektor Pariwisata
Perubahan dalam kondisi ekonomi global dan lokal juga mempengaruhi keputusan wisatawan dalam merencanakan perjalanan. Ketidakpastian ekonomi membuat banyak orang lebih berhati-hati dalam mengeluarkan anggaran untuk perjalanan.
Meski ada keinginan untuk berlibur, banyak wisatawan yang juga mempertimbangkan nilai dari produk yang mereka pilih. Ini menunjukkan pentingnya bagi penyedia layanan pariwisata untuk menawarkan pengalaman yang tidak hanya menarik tetapi juga bernilai.
Penyedia layanan pariwisata dituntut untuk berinovasi dalam menciptakan pengalaman yang menarik sambil menjaga harga tetap bersaing. Hal ini penting agar dapat memenuhi kebutuhan serta keinginan wisatawan yang beragam.







