loading…
2 santri asal Aceh Feri Gunawan dan Khalis Akhyar yang berjuang menembus banjir dan longsor menuju Al Azhar Mesir. Foto/Kemenag.
Ada dua santri asal Aceh Besar yang namanya kini menjadi buah bibir, yaitu Feri Gunawan dan Khalis Akhyar. Mereka menempuh perjalanan penuh tantangan untuk mencapai Al Azhar di Kairo, Mesir, dengan melawan arus banjir dan longsor di Sumatera.
Kisah mereka dimulai dari tempat asal mereka yang tertutup, akibat bencana alam yang melanda. Dengan tekad dan semangat yang tinggi, kedua santri ini berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer demi menggapai cita-cita mereka.
Kisah Perjuangan Dua Santri Menuju Al Azhar di Mesir
Feri Gunawan dan Khalis Akhyar merupakan alumni Dayah Insan Qur’ani dari Aceh Besar. Berasal dari dataran tinggi Gayo yang terisolasi akibat banjir bandang, mereka harus berjuang ekstra keras untuk mencapai tujuan mereka.
Perjalanan mereka dimulai ketika akses keluar dari kampung terputus, sehingga kendaraan tidak bisa melintas. Dalam keadaan darurat ini, Feri bersama keluarga memutuskan untuk berjalan kaki, meski rintangan berat menghadang di depan.
Di tengah perjalanan, mereka berhadapan dengan hujan lebat dan tanah yang berlumpur. Namun, keberanian dan semangat mereka menjadi penyemangat untuk terus bergerak maju demi ilmu pengetahuan.
Kendala yang Dihadapi dalam Perjalanan
Setelah melewati perjalanan yang melelahkan, Feri dan ayahnya akhirnya berhasil mencapai Kampung Kem. Di sana, mereka melanjutkan perjalanan dengan menumpang ojek menuju jalur utama yang lebih aman.
Namun, situasi di sepanjang perjalanan tak kunjung membaik. Jalan licin dan arus air yang deras membuat setiap langkah menjadi pertaruhan. Rasa cemas selalu menyertai, tetapi mereka tetap berpegang pada tekad yang kuat.
Perjuangan menjadi semakin berat saat mereka harus berhadapan dengan kondisi cuaca yang tidak menentu. Meskipun begitu, mereka tak pernah surut dari niat awal untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi.
Tekad Kuat dan Harapan untuk Masa Depan
Feri dan Khalis telah membuat rencana dan menyiapkan mental demi masa depan yang lebih baik. Keduanya sangat sadar bahwa pendidikan adalah kunci untuk meraih impian mereka. Dengan usaha dan doa, mereka yakin akan dapat menghadapi segala rintangan.
Secara perlahan, perjalanan mereka menuju tujuan yang diimpikan semakin mendekati kenyataan. Mereka bertekad untuk tidak menyerah, meski berbagai ujian terus menguji kesabaran.
Kerja keras mereka diharapkan dapat menginspirasi banyak orang yang berada dalam situasi serupa. Dari perjalanan yang panjang ini, banyak pelajaran berharga dapat diambil terkait pentingnya ketekunan dan keyakinan.






