Peristiwa yang melibatkan sejumlah warga negara asing (WNA) asal China di kawasan pertambangan emas di Kalimantan Barat baru-baru ini menarik perhatian banyak pihak. Sedikitnya 15 WNA terdampak dalam insiden yang diduga mencakup perusakan dan penyerangan terhadap anggota TNI setempat.
Kejadian berlangsung di Kecamatan Tumbang Titi, Kabupaten Ketapang dan melibatkan tindakan kekerasan yang cukup serius. Dalam insiden ini, terdapat laporan bahwa dua kendaraan perusahaan mengalami kerusakan akibat aksi tersebut.
Saat kejadian, kelima anggota TNI yang terlibat mengalami serangan langsung dari grup WNA yang bersenjata tajam dan airsoft gun. Situasi di lapangan sempat memanas namun pihak berwenang segera mengupayakan penanganan agar keadaan kembali kondusif.
Aksi Kekerasan WNA di Pertambangan Emas
Aksi tersebut dipicu oleh aktivitas penerbangan drone di area pertambangan yang dilakukan oleh anggota pengamanan sipil PT Sultan Rafli Mandiri. Tindakan pengawalan yang dilakukan oleh anggota TNI dengan mengejar pilot drone ternyata berujung pada konfrontasi dengan kelompok WNA.
Kataran Kepala Polsek Tumbang Titi, Iptu Made Adyana, mengkonfirmasi bahwa situasi saat ini telah kembali normal pasca-insiden. Ia memastikan bahwa pihak kepolisian belum menerima laporan resmi dari perusahaan mengenai peristiwa ini.
Kini, PT Sultan Rafli Mandiri sedang berkoordinasi dengan pihak pengacara untuk mengambil langkah-langkah hukum selanjutnya. Meskipun insiden ini berlangsung cukup singkat, dampaknya terhadap perusahaan cukup signifikan.
Kronologi Kejadian Penyerangan di Kalimantan Barat
Kejadian jalan-jalan dimulai sekitar pukul 15:30 WIB ketika anggota pengamanan sipil melakukan tugas jaga dan mendapati adanya penerbangan drone. Penemuan ini membuat mereka bersama lima anggota TNI dari Batalyon Zeni Tempur 6 melakukan pengejaran.
Pada pukul 15:40 WIB, anggota pengamanan mendekati lokasi di mana empat WNA terlihat menerbangkan drone. Kejadian ini berlangsung sekitar 300 meter dari pintu masuk PT SRM dan tidak terduga menjadi pemicu penyerangan.
Ketika angkatan TNI dan pengamanan sipil tiba di lokasi, sebelas orang anggota WNA mengejutkan mereka dengan membawa senjata tajam. Situasi ini semakin sulit karena jumlah pihak penyerang lebih banyak, sehingga angkatan TNI terpaksa mundur untuk menghindari bentrokan.
Kerugian yang Ditanggung Perusahaan dan Tindakan Lanjutan
Setelah penyerangan, dampaknya dirasakan oleh PT Sultan Rafli Mandiri yang mengalami kerugian tak sedikit. Dua kendaraan perusahaan, yaitu satu mobil dan satu sepeda motor, mengalami kerusakan berat yang rusak parah akibat serangan tersebut.
Pihak keamanan perusahaan berhasil mengamankan satu senjata tajam sebagai barang bukti dari kejadian tersebut. Imran Kurniawan, Chief Security perusahaan, menegaskan bahwa pihaknya telah melaporkan kejadian ini kepada polisi.
Langkah-langkah selanjutnya sedang dilakukan untuk mengklarifikasi situasi dan mendalami penyebab insiden ini. Sebuah investigasi lebih lanjut diperlukan agar efek dari insiden ini dapat ditangani secara tepat dan tidak terulang di masa depan.






