Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda kawasan Sumatera utara pada akhir November 2025 menjadi salah satu tragedi alam yang tidak hanya disebabkan oleh cuaca ekstrem. Fenomena ini mencerminkan interaksi kompleks antara faktor atmosfer, kerusakan lingkungan, dan kapasitas tampung wilayah yang semakin menurun. Hal ini menimbulkan tantangan besar bagi masyarakat dan pemerintah dalam upaya mitigasi bencana yang lebih efektif di masa depan.
Menurut Muhammad Rais Abdillah, Ketua Program Studi Meteorologi dari ITB, daerah tersebut memang berada dalam periode puncak musim hujan, di mana curah hujan meningkat secara tajam. Wilayah ini memiliki pola curah hujan yang unik, dengan dua puncak dalam setahun, dan saat itu tengah mengalami puncak yang paling intens.
Dalam analisisnya, Rais membagikan data mengkhawatirkan, di mana curah hujan di wilayah tersebut melampaui 150 milimeter, bahkan ada yang mencatat lebih dari 300 milimeter dalam satu hari. Angka tersebut menunjukkan betapa serius situasi yang harus dihadapi masyarakat Sumatera utara saat itu—mirip dengan bencana banjir yang terjadi di ibu kota pada tahun 2020.
Memahami Penyebab Bencana Banjir di Sumatera Utara
Rais Abdillah juga menjelaskan bahwa fenomena atmosfer lain turut memperburuk kondisi. Diantaranya, munculnya pusaran angin yang berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar, yang menambah intensitas curah hujan di sekitar Selat Malaka. Meskipun siklon ini tidak sekuat siklon di Samudera Hindia, tetapi dampaknya cukup signifikan bagi peningkatan presipitasi di kawasan tersebut.
Dia menambahkan bahwa adanya indikasi cold surge vortex dan sistem skala meso juga mendorong terbentuknya awan hujan besar. Ini secara langsung berkaitan dengan meningkatnya intensitas presipitasi, efek yang tidak bisa diabaikan saat membahas fenomena bencana seperti banjir serta longsor yang terjadi di wilayah tersebut.
Kondisi geospasial di Sumatera Utara menunjukkan penurunan tutupan vegetasi karena banyaknya konversi lahan menjadi pemukiman dan area pertanian intensif. Hal ini memperburuk kemampuan wilayah untuk menyerap air hujan, padahal sebelumnya kawasan ini memiliki daya tampung yang baik yang mendukung ketahanan terhadap limpasan air hujan.
Dampak Kerusakan Lingkungan terhadap Banjir
Heri Andreas, Dosen Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, menyoroti bahwa dampak bencana seperti banjir tidak hanya ditentukan oleh intensitas curah hujan. Ia menekankan bahwa hal ini berkaitan erat dengan bagaimana air dikelola oleh daerah tersebut. Dalam konteks ini, wilayah berhutan yang memiliki infiltrasi tinggi sangat berperan dalam penyerapan air.
Namun, ketika wilayah-wilayah hijau tersebut diubah menjadi permukiman atau lahan terbuka, kemampuan untuk menyerap air menjadi hilang. Ketidakmampuan ini menyebabkan air hujan langsung mengalir ke sungai dengan cepat, memicu terjadinya banjir lebih cepat daripada yang diharapkan.
Pentingnya menjaga dan merestorasi kawasan alami sebagai zona penahan air tak boleh diabaikan. Upaya konversi lahan yang tidak memperhatikan aspek lingkungan dapat membuat daerah tersebut semakin rentan terhadap bencana alam, termasuk banjir yang sering terjadi.
Pentingnya Data Geospasial dalam Perencanaan Tata Ruang
Heri juga menyoroti bahwa peta bahaya banjir di Indonesia belum sepenuhnya akurat, disebabkan oleh keterbatasan data geospasial dan model yang belum komprehensif. Data yang tidak memadai ini jelas mempengaruhi perencanaan tata ruang yang berbasis risiko dan berpotensi meningkatkan kerentanan terhadap bencana.
Penting untuk memiliki pemetaan risiko yang baik, sebagai langkah awal dalam memitigasi dampak bencana serupa di masa mendatang. Pendekatan berbasis bukti dalam perencanaan tata ruang sangat diperlukan agar dapat meminimalkan efek negatif dari bencana alam tersebut.
Berinvestasi dalam teknologi pemodelan dan pengumpulan data yang lebih baik dapat meningkatkan respons terhadap risiko bencana. Hal ini termasuk pemantauan curah hujan, pemetaan area rawan, serta pemeliharaan dan restorasi ekosistem yang mampu menyimpan air secara efisien.
Solusi dan Mitigasi untuk Menghadapi Banjir Mendatang
Kultur masyarakat juga harus diperhatikan dalam perencanaan mitigasi bencana. Edukasi publik mengenai pengelolaan lahan dan pentingnya menjaga alam menjadi kunci untuk mengurangi dampak bencana. Kesadaran masyarakat dapat membantu mencegah tindakan yang memperburuk situasi lingkungan, seperti deforestasi dan pembangunan ilegal di area rentan.
Selain itu, kerja sama antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat sangat penting dalam merumuskan kebijakan yang lebih efektif. Pengembangan infrastruktur hijau dan penataan ulang pemukiman di daerah rawan bencana bisa jadi langkah yang tepat dalam menanggulangi risiko bencana banjir di masa depan.
Akhirnya, upaya pemantauan yang berkelanjutan dan penyesuaian strategi mitigasi sangat diperlukan. Sintesis dari berbagai data dan studi terbaru dapat memberikan pedoman untuk strategi yang lebih efektif dalam menghadapi dampak perubahan iklim dan bencana alam yang semakin sering terjadi.







