Abu vulkanik akibat letusan Gunung Ili Lewotolok meluas dengan dampak signifikan di wilayah sekitar. Sebanyak 27 desa di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, kini berhadapan dengan dampak erupsi yang telah meningkat, menyisakan tantangan besar bagi masyarakat setempat.
Peningkatan jumlah desa yang terdampak tersebut sungguh mengkhawatirkan, berubah drastis dari hanya 7 desa di awal. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, Andris Korban, menerangkan bahwa desa yang terkena dampak mencakup berbagai wilayah.
Desa-desa yang terdampak mencakup Jontona, Lamaau, Baolaliduli, dan Aulesa, termasuk di dalamnya Lamawolo dan Lamatokan. Kondisi ini mencatat bahwa wilayah Kedang juga merasakan efek abu vulkanik untuk pertama kalinya, berbeda dari pengalaman sebelumnya yang hanya terbatas pada Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur.
Dampak Letusan Gunung terhadap Kehidupan Sehari-hari Masyarakat
Beberapa daerah yang juga merasakan dampak erupsi meliputi Kalikur, Normal, dan Hoelea. Keterbatasan air bersih menjadi sorotan utama, mengingat hujan abu mengakibatkan kontaminasi sumber-sumber air yang selama ini digunakan oleh masyarakat. Keadaan ini mendorong pemerintah untuk melakukan upaya distribusi air bersih, meskipun terbentur keterbatasan anggaran.
Selama ini, BPBD telah mempertimbangkan opsi-opsi kerjasama dengan pihak swasta untuk membantu distribusi air bersih. Selain itu, ketidakcukupan masker bagi warga juga menjadi masalah mendesak mengingat abu vulkanik yang bertebaran di udara.
Kendati masalah kesehatan dan keamanan menjadi fokus, pemerintah belum menetapkan hari libur sekolah. Penangguhan ini kemungkinan dikarenakan belum ada peningkatan signifikan dalam skala erupsi yang mungkin menimbulkan ancaman lebih besar bagi keselamatan anak-anak dan masyarakat sekitar.
Masalah di Lahan Pertanian Akibat Letusan
Era letusan ini tidak hanya menimbulkan kekhawatiran terkait air bersih, tapi juga berdampak pada sektor pertanian. Tanaman yang terpapar abu vulkanik menjadi tidak layak konsumsi, sehingga mengancam ketahanan pangan masyarakat setempat. Sayuran dan buah-buahan yang biasa dihasilkan pun kini terpaksa dibuang karena tidak memenuhi standar kesehatan.
Di tengah tantangan ini, keterbatasan materi stok masker menjadi catalunya. Masyarakat kini beralih menggunakan kain sebagai pengganti masker, menciptakan situasi darurat di mana perlindungan diri menjadi hal yang sangat diperlukan. BPBD telah berusaha berkoordinasi dengan pemerintah provinsi untuk memenuhi kebutuhan dasar ini.
Andris Korban menegaskan bahwa upaya kami akan terus berlanjut, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan masker bagi masyarakat. Masyarakat diharap untuk tetap waspada dan mengikuti arahan dari petugas guna menjaga kesehatan dan keselamatan sendiri.
Monitoring dan Penanganan Letusan Gunung Ili Lewotolok
Penting untuk dicatat bahwa Gunung Ili Lewotolok telah dinaikkan statusnya dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) berdasarkan peningkatan aktivitas vulkanik. Sejak awal Januari 2026, gunung tersebut menunjukkan gejala yang lebih jelas, dengan kolom abu yang dapat mencapai ketinggian 300 meter di atas puncak.
Petugas pemantau terus mencatat aktivitas gempa erupsi yang kian meningkat, dengan terjadinya 341 kejadian dalam kurun waktu yang relatif singkat. Kejadian aliran lava yang terlihat keluar dari kawah pun menandakan meningkatnya potensi bahaya di sekitar wilayah gunung tersebut.
Keseluruhan upaya mitigasi dan pemantauan oleh pihak berwenang ini bertujuan untuk memberikan informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dengan adanya tindakan preventif yang jelas, diharapkan dampak erupsi dapat diminimalisir, dan keselamatan warga menjadi prioritas utama.
Kesimpulan dan Harapan untuk Masyarakat Terdampak
Situasi yang dihadapi masyarakat di sekitar Gunung Ili Lewotolok merupakan tantangan yang sangat kompleks. Dari dampak terhadap kesehatan hingga sektor pertanian, setiap aspek kehidupan terpengaruh oleh letusan yang terjadi. Meski kondisi ini mendesak, namun Pemerintah dan pihak terkait berupaya sekuat tenaga untuk merespons setiap kebutuhan yang ada.
Diharapkan masyarakat tetap bekerja sama dalam menghadapi situasi ini, mengikuti saran dari pihak berwenang, serta saling mendukung antar sesama. Kebangkitan semangat gotong royong dapat menjadi kunci dalam melewati masa-masa sulit ini.
Dengan segala upaya yang dilakukan, harapan untuk kehidupan yang lebih baik selalu ada. Keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat diharapkan dapat terjaga, terlebih saat menghadapai tantangan besar seperti ini di masa depan.







